Wako Padang: Ada Kesenjangan dalam Pendidikan Anak Usia Dini
Padang - Walikota Padang menyatakan ada yang salah dengan pendidikan anak usia dini (PAUD) di Kota Padang khususnya. Kesalahan itu terletak pada kesenjangan pola pikir pemerintah dengan dinas pendidikan dan orang tua dalam mendidik anak usia dini.
"Sepertinya para orang tua beranggapan pendidikan, pembentukan karakter, anak pintar, penanaman nilai-nilai agama dan budaya pada anak bisa menyerahkan anak pada sekolah," ujar Walikota Padang, Sabtu (26/4).
Walikota yang diwakili Sekdako, Nasir Ahmad, menegaskan umumnya orang tua beranggapan pendidikan anak bisa selesai oleh pengelola dan guru di sekolah. Orang tua berani bayar mahal untuk penddidikan anak mereka di usia dini lebih mahal dibanding biaya di perguruan tinggi. Kemudian beranggapan mereka bisa berlepas tangan terhadap pendidikan anaknya itu.
Padahal, peranan orang tua pun penting. Jika orang tua abai terhadap anaknya maka tak jarang anak lebih percaya omongan guru mereka dibanding ayah ibunya.
Ada fenomena menarik lainnya. Bila diadakan rapat di komite sekolah, penerimaan rapor dan urusan yang berkaitan dengan pendidikan anak lainnya, lebih banyak dihadiri kaum ibu. Tak jarang, informasi yang disampaikan tidak sinkron karena para ibu karena ketidakmengertian dia sering komplain jika diberitahu tentang perkembangan pendidikan anaknya.
Nasir berharap Dewi Utama Faiza dan Tatty Elmir bisa memberi masukan kepada kalangan pendidik, pengelola PAUD, orang tua yang hadir dalam seminar dan workshop yang diselenggarakan PAUD/TK Hauriyah Halum dalam rangka perayaan Milad ke-2 mereka. (*)
"Sepertinya para orang tua beranggapan pendidikan, pembentukan karakter, anak pintar, penanaman nilai-nilai agama dan budaya pada anak bisa menyerahkan anak pada sekolah," ujar Walikota Padang, Sabtu (26/4).
Walikota yang diwakili Sekdako, Nasir Ahmad, menegaskan umumnya orang tua beranggapan pendidikan anak bisa selesai oleh pengelola dan guru di sekolah. Orang tua berani bayar mahal untuk penddidikan anak mereka di usia dini lebih mahal dibanding biaya di perguruan tinggi. Kemudian beranggapan mereka bisa berlepas tangan terhadap pendidikan anaknya itu.
Padahal, peranan orang tua pun penting. Jika orang tua abai terhadap anaknya maka tak jarang anak lebih percaya omongan guru mereka dibanding ayah ibunya.
Ada fenomena menarik lainnya. Bila diadakan rapat di komite sekolah, penerimaan rapor dan urusan yang berkaitan dengan pendidikan anak lainnya, lebih banyak dihadiri kaum ibu. Tak jarang, informasi yang disampaikan tidak sinkron karena para ibu karena ketidakmengertian dia sering komplain jika diberitahu tentang perkembangan pendidikan anaknya.
Nasir berharap Dewi Utama Faiza dan Tatty Elmir bisa memberi masukan kepada kalangan pendidik, pengelola PAUD, orang tua yang hadir dalam seminar dan workshop yang diselenggarakan PAUD/TK Hauriyah Halum dalam rangka perayaan Milad ke-2 mereka. (*)
