Memajukan Indonesia Lewat Lautan
Padang - Sudah saatnya para pemimpin di Indonesia melirik laut sebagai potensi besar dalam memajukan negara ini. Terutama dalam bersiap menghadapi satu abad Indonesia di 2045 nanti.
“Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai perairan lebih luas dari daratan. Potensi ini dilihat oleh Prof. Hasyim Jalal sejak lama,” ujar pengarang buku Patriot Negara Kepulauan, H. Efri Yoni Baikoeni di Balairung Caraka, Kampus I Proklamator, Padang Kamis (27/2).
Efri Yoni mengungkapkan, betapa Hasyim Djalal yang lahir dan besar di daerah Agam yang jauh dari laut, malah punya visi yang besar tentang laut. Berkat kepiawaiannya dalam ilmu kelautan internasional, maka dia berulangkali diminta memainkan perannya. Dia diminta memberikan pandangannya bagaimana Kerajaan Brunei Darussalam menyikapi perselisihannya dengan Malaysia.
Bahkan ada dosen Efri Yoni berkebangsaan Jepang menyebut, jika tidak ada inisiatif dari Indonesia, yang dimainkan Hasyim Djalal, maka mungkin akan terjadi pertempuran hebat di Laut Cina Selatan. Pulau Spratly sebagai pemicu sejumlah negara ASEAN bakal berhadapan dengan Cina. Mereka berebut mengklaim pulau yang dilalui 500.000 kapal tersebut.
Potensi Samudera India
Samudera Hindia kini aktif digarap India dan Cina. India telah lama mendapat konsesi internasional untuk menggarap perairan di barat Pulau Sumatra itu. Mereka sudah lama meneliti dengan dua pusatnya di Karala dan Madras.
India telah banyak menikmati mineral dan kekayaan laut lainnya. Hal ini dikatakan oleh Prof. Hasyim Jalal, diplomat Indonesia yang berada di balik layar suksesnya pengesahan Hukum Laut Internasional PBB (UNCLOS) pada 1982.
Tokoh yang mengusung kepentingan Indonesia bersama Muchtar Kusumaatmaja itu menyatakan, tuna terbaik di dunia lahir di selatan Jawa. Dan setelah besar bermigrasi. Menurut Hasyim, salah satu jalurnya melewati Padang.
“Tiap pagi mereka melambaikan kepada kita, menugcapkan selamat pagi. Namun yang menangkap tuna orang luar, sementara orang Minang menangkap teri,” tukasnya berseloroh.
Disebutkan Hasyim, seekor tuna bisa mencapai 187 kg dan jika dilelang di Jepang bisa laku US$ 57.000. Setelah itu dibawa lagi ke Indonesia yang dengan bangganya makan sushi atau sashimi.
Bila Djuanda bisa menggabungkan laut nusantara hingga kedalaman 200 meter. Namun konvensi laut internasional memberikan hak bisa menggarap sampai kedalaman 2.500 meter. Bahkan bisa lebih jika mampu membuktikan dasar laut itu kelanjutan wilayah secara alamiah.
“Saya selalu bertanya, kapan Padang bisa memanfaatkan laut mereka secara optimal,” ungkap Hasyim saat orasi ilmiah & bedah buku di balairung Caraka Kampus Proklamator I.
Ditegaskannya, negara dunia tengah berebut konsesi di antartika, benua terbesar di selatan bumi. Indonesia meneliti lautnya saja kapan? Apalagi Padang. Makanya Hasyim mengapresiasi positif lahirnya Forum Akademis Samudera Hindia di Universitas Bung Hatta (UBH). Dan dia diajak Rektor UBH, Prof Niki Lukviarman sebagai penasehat di forum tersebut.(zul)
“Indonesia sebagai negara kepulauan mempunyai perairan lebih luas dari daratan. Potensi ini dilihat oleh Prof. Hasyim Jalal sejak lama,” ujar pengarang buku Patriot Negara Kepulauan, H. Efri Yoni Baikoeni di Balairung Caraka, Kampus I Proklamator, Padang Kamis (27/2).
Efri Yoni mengungkapkan, betapa Hasyim Djalal yang lahir dan besar di daerah Agam yang jauh dari laut, malah punya visi yang besar tentang laut. Berkat kepiawaiannya dalam ilmu kelautan internasional, maka dia berulangkali diminta memainkan perannya. Dia diminta memberikan pandangannya bagaimana Kerajaan Brunei Darussalam menyikapi perselisihannya dengan Malaysia.
Bahkan ada dosen Efri Yoni berkebangsaan Jepang menyebut, jika tidak ada inisiatif dari Indonesia, yang dimainkan Hasyim Djalal, maka mungkin akan terjadi pertempuran hebat di Laut Cina Selatan. Pulau Spratly sebagai pemicu sejumlah negara ASEAN bakal berhadapan dengan Cina. Mereka berebut mengklaim pulau yang dilalui 500.000 kapal tersebut.
Potensi Samudera India
Samudera Hindia kini aktif digarap India dan Cina. India telah lama mendapat konsesi internasional untuk menggarap perairan di barat Pulau Sumatra itu. Mereka sudah lama meneliti dengan dua pusatnya di Karala dan Madras.
India telah banyak menikmati mineral dan kekayaan laut lainnya. Hal ini dikatakan oleh Prof. Hasyim Jalal, diplomat Indonesia yang berada di balik layar suksesnya pengesahan Hukum Laut Internasional PBB (UNCLOS) pada 1982.
Tokoh yang mengusung kepentingan Indonesia bersama Muchtar Kusumaatmaja itu menyatakan, tuna terbaik di dunia lahir di selatan Jawa. Dan setelah besar bermigrasi. Menurut Hasyim, salah satu jalurnya melewati Padang.
“Tiap pagi mereka melambaikan kepada kita, menugcapkan selamat pagi. Namun yang menangkap tuna orang luar, sementara orang Minang menangkap teri,” tukasnya berseloroh.
Disebutkan Hasyim, seekor tuna bisa mencapai 187 kg dan jika dilelang di Jepang bisa laku US$ 57.000. Setelah itu dibawa lagi ke Indonesia yang dengan bangganya makan sushi atau sashimi.
Bila Djuanda bisa menggabungkan laut nusantara hingga kedalaman 200 meter. Namun konvensi laut internasional memberikan hak bisa menggarap sampai kedalaman 2.500 meter. Bahkan bisa lebih jika mampu membuktikan dasar laut itu kelanjutan wilayah secara alamiah.
“Saya selalu bertanya, kapan Padang bisa memanfaatkan laut mereka secara optimal,” ungkap Hasyim saat orasi ilmiah & bedah buku di balairung Caraka Kampus Proklamator I.
Ditegaskannya, negara dunia tengah berebut konsesi di antartika, benua terbesar di selatan bumi. Indonesia meneliti lautnya saja kapan? Apalagi Padang. Makanya Hasyim mengapresiasi positif lahirnya Forum Akademis Samudera Hindia di Universitas Bung Hatta (UBH). Dan dia diajak Rektor UBH, Prof Niki Lukviarman sebagai penasehat di forum tersebut.(zul)