Header Ads

  • Breaking News

    Siap Menghadapi Bencana dengan Manajemen Bencana

    Padang - Bencana datang tak ada yang bisa menolak. Namun sebagai makhluk yang berakal kita harus bersiap menghadapi bencana tersebut.

    Kesiapan yang dimaksud adalah berusaha miminimalkan dampak bencana yang terjadi. Caranya, menurut Direktur Pasca Sarjana Universitas Bung Hatta (UBH), Prof. Nasfryzal Carlo, yaitu dengan memahami dan menerapkan manajemen bencana.

    Diungkapkan Carlo, sebelum terjadi bencana ada ilmu tentang siaga bencana. Ketika bencana terjadi ada manajemen tanggap darurat. Bahkan setelah terjadinya bencana ada pula tahapan rehabilitasi dan rekonstruksi.

    “Ketiga tahapan itu harus dipahami oleh pemerintah dari pusat hingga daerah dan semua stakeholder terkait penanggulangan bencana. Kami membuka program studi khusus untuk itu,” tegas Carlo, Minggu (26/1).

    Menurut Carlo, program magister Konsentrasi Manajemen Risiko Bencana yang dibuka oleh lembaga yang dia pimpin itu mendapat dukungan penuh dari Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB). Bahkan Kepala BNPB, Syamsul Maarif ikut mengajarkan Penanggulangan Bencana Berbasis Masyarakat di Kampus Proklamator I, Ulak Karang, Padang. Tak hanya itu, para ahli (expert) yang berkunjung ke BNPB pun didatangkan ke UBH. Guna membagi ilmunya.

    Selain itu, keinginan menjadikan UBH sebagai kampus siaga bencana juga mendapat dukungan dari BNPB. Di sini nanti diharapkan lahir cikal bakal ilmu kebencanaan yang aplikatif dan partisipatif.

    Para calon magister nantinya diarahkan kepada penelitian yang bersikap aplikatif, yang berguna dan mendapat sokongan masyarakat. Warga pun bisa melihat bagaimana teknologi tepat guna yang mudah dikembangkan untuk ramah terhadap bencana.

    Carlo juga mengingatkan agar masyarakat berhati-hati dengan kondisi iklim saat ini. Curah hujan yang tinggi yang sebenarnya berkah malah menjadi bencana di negeri ini. Penataan ruang yang baik menjadi solusi agar banjir tidak menjadi bencana tahunan.

    Katanya faktor utama banjir, lebih disebabkan drainase yang tidak tertata dengan baik. Di samping itu, sebagian besar rumah penduduk dan perkantoran dibuat dengan kondisi tinggi dari badan jalan. Akibatnya, air hujan yang turun langsung, masuk ke jalan-jalan.

    Biasanya pemerintah atau masyarakat baru panik ketika air bah telah menggenangi kawasan perumahan, perkantoran. Alangkah baiknya, jika panik itu sebelum terjadi banjir dengan cara giat membersihkan riol, memperbaiki drainase, saluran air, bantaran sungai serta tidak membuang sampah ke selokan atau sungai

    “Selain itu juga kurang berpartisipasi masyarakat dalam menjaga lingkungan. Sampah berserakan di mana-mana. Parahnya, masyarakat cenderung membuang sampah ke selokan. Bila hujan, sampah jadi menyumbat riol. Untuk itulah, pemerintah mesti segera membenahi persoalan drainase ini,” ujarnya.

    Dia mencontohkan metode pengendalian banjir yang diambil Gubernur Jokowi dalam mengatasi banjir dengan cara mewajibkan tiap rumah membuat sumur guna menampung air hujan. Sumur bisa berbentuk sumur resapan maupun sumur yang akan dimanfaatkan air hujannya bagi keperluan sehari-hari.

    Untuk itu, Carlo menginformasikan bagi para calon magister yang ingin berdaya guna dalam penanggulangan bencana ini, masih ada kesempatan mengikuti ujian tahap kedua pada 1 Februari nanti. Pada hari yang sama juga dilaksanakan ujian bagi peminat pengelolaan sumberdaya perairan, pesisir dan kelautan, manajemen, teknil sipil, ilmu hukm, arsitektur, pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Ingat, tempat terbatas alias siapa cepat itu dapat.  (zul)
    OKEBANA.COM merupakan anggota resmi dari Asosiasi Media Online Nusantara (DPN ASANTARA) dengan nomor register 003/REG/DPN-ASANTARA/VII/2026.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ad728