Peduli ABK, PAUD di Lb.Kilangan Bersiap untuk Inklusi
Padang - Anak-anak berkebutuhan khusus pun berhak atas pendidikan sebagaimana layaknya anak-anak normal. Lembaga pendidikan harus menerima mereka. Apalagi Kota Padang sudah dicanangkan sebagai Kota Inklusi sejak September lalu.Hal itu dikatakan Kabid PAUDNI Dinas Pendidikan Kota Padang, Musdek di hadapan 130 pengelola dan pendidik PAUD di Kecamatan Lubuk Kilangan. Anak-anak berkebutuhan khusus (ABK) itu jika diarahkan dengan benar, maka mereka bisa lebih cerdas.
“Anak-anak yang memiliki kekurangan secara fisik, emosi juga punya hak. Berdosa kita jika tidak mau mendidik dia. Apalagi diantara anak-anak itu memiliki bakat dan kecerdasan yang istimewa,” tegas Musdek didampingi Kepala UPTD Dinas Pendidikan Kecamatan Lubuk Kilangan, Januardi di TK Semen Padang, Kamis (19/12).
Anak-anak yang cerdas istimewa dan bakat istimewa (CIBI) ini akan tersia-sia jika tidak terlayani dengan baik. Ujung-ujungnya mereka nakal atau menysisihkan diri.
Ditambahkan Musdek, permasalahan timbul karena pengelola dan pendidik lembaga PAUD kurang memahami arti penting anak-anak tersebut bersekolah di sekolah biasa, bergaul dengan anak-anak normal lainnya. Kondisi ini diperparah rasa malu yang dimiliki orangtua dari ABK itu.
Selain itu, para guru yang bakal menangani mereka di PAUD lebih mengedepankan rasa dan keikhlasan semata. Di Kota Padang, kata Musdek, dari 1.300 guru baru 200 yang PNS.
Namun merekalah yang berhasil menjalankan tugasnya hingga anak didiknya mampu melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Menyadari hal itu, Pusat Kerja Gugus (PKG) Lavender yang beranggotakan pengelola dan pendidik TK di Kecamatan Lubuk Kilangan menggagas kegiatan itu sebagai unjuk kepedulian.
Mereka dididik dan dilatih agar bisa menerima dan melayani anak berkebutuhan khusus sebagai peserta didiknya.
PKG yang diketuai Hj. Asnah itu mengadakan pelatihan dua hari kepada anggotanya. Hari pertama, mereka mendapat pencerahan dari dua narasumber.
Para guru mendapat pemahaman apa dan bagaimana anak kebutuhan khusus. Ada 20 kriteria seperti rungu, daksa, netra, wicara, grahita, laras, ganda, autis, gangguan belajar dan anak jenius.
“Pada hari kedua, para guru minimal satu orang dari tiap PAUD di kecamatan ini, harus melek komputer dan internet. Mereka minimal bisa membuat email dan menggunakannya sebagai pendukung tugas,” ujar Kepala TK Pembina Lubuk Kilangan itu didampingi Ketua Panitia Pelaksana Diklat tentang Anak Inklusi, Deni Lastri (Kepala TK Semen Padang) dan sekretarisnya Prima Nuzra (Kepala TK Yannira).
Ketua Yayasan Igasar, Yuzri Boy dan sekretarisnya Mawardi ikut menghadiri acara.
Di tengah kesibukannya, Boy dan Mawardi berusaha menjadi tuan rumah yang baik. Apalagi Boy punya pengalaman dengan ABK ini.
Boy menyatakan bisa saja Yayasan Igasar dengan dukungan PT Semen Padang dan stake holder lainnya mengambil peran aktif dalam membantu ABK ini. Namun harus jelas dulu bagaimana penanganan ABK sesuai perencanaan Pemko Padang.
Sekaitan dengan posisi para pendidik PAUD di Lubuk Kilangan, dikatakan Asnah dari 130 pendidik PAUD hanya 10 yang sudah PNS. Hal ini dibenarkan oleh Januardi dan Pengawas TK Lubuk Kilangan Candra Evawita. Padahal mereka bertugas mempersiapkan generasi yang bakal memimpin Indonesia di usia satu abad nantinya. (zul)