Majukan UMKM dan Koperasi Lewat Pasar Tradisional
Padang - Mal dan swalayan berkembang bak cendawan tumbuh, baik pada kota-kota di Sumbar apalagi kota besar lainnya di Indonesia. Namun ada yang menarik, pasar tradisional tetap eksis.
“Ada nilai-nilai yang menunjang eksistensi pasar tradisional. Di dalamnya ada tawar menawar yang membuat interaksi sosial antara penjual dan pembeli. Silaturahmi yang terjadi di sana membuat banyak konsumen yang tetap memilih pasar tradisional untuk membeli kebutuhan sehari-hari,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Achmad Charisma.
Dikatakan Achmad, nilai-nilai yang berkembang di pasar-pasar tradisional sejatinya merupakan nilai-nilai yang harus dikembangkan di koperasi. Jadi, jika pasar tradisional itu dikelola oleh koperasi maka ibarat keris balik ke gagangnya. Sangat cocok.
Tersebab itulah Kementerian Koperasi berusaha terus mempertahankan keberadaannya dengan cara merevitalisasi pasar tradisional ini lewat koperasi. Pasar itu dipercantik dan dikelola dengan baik. Keamanan dan kenyamanan konsumen di pasar diperhatikan.
Maka selain menguntungkan dari tingkat kunjungan konsumen yang meningkat, koperasi pengelolanya pun berkembang dari sewa toko, lapak dan retribusi yang ada. Akan lebih banyak lagi rupiah yang bisa diraup jika pasar itu berkembang jadi pasar wisata nantinya.
Selain itu, kata Achmad, nilai lebih daripada pasar yang dikelola koperasi berada pada manajemen yang dikelola dengan satu kebijakan. Yang berlaku adalah kebijakan yang ditetapkan koperasi bersama anggotanya. Ada ikatan emosional.
Sementara jika pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah kota atau kabupaten, maka banyak instansi yang terkait di dalamnya. Ada dinas perindustrian dan perdagangan yang memantau harga dan timbangan, ada dinas pasar, ada dinas perhubungan dan lainnya. Mereka punya kebijakan tersendiri.
Katanya, revitalisasi pasar tradisional merupakan program strategis Kementerian Koperasi dan UKM sejak tahun 2003 dengan sasaran memberdayakan para pelaku usaha mikro yang selama ini tumbuh di lokasi pasar. Mereka belum memiliki fasilitas transaksi dan tempat berusaha yang layak, sehat, bersih dan nyaman serta dimiliki dan dikelola oleh para pedagang sendiri dalam wadah koperasi.
Merevitalisasi pasar berarti membantu mereka mengembangkan skala usahanya. Program ini diyakini secara langsung telah memperbaiki dan memperluas sarana ekonomi rakyat di daerah yang selaras dengan upaya pemerataan pembangunan dan upaya memperluas kesempatan kerja dan mengentaskan kemiskinan.
Pasar tradisional ini nantinya diharap jadi benteng penyelamat umkm dari serbuan produk negara lain jika masyarakat ekonomi ASEAN diberlakukan 2015 nanti.
Tentu saja program disambut luas oleh masyarakat. Salah satunya Pasar Padang Sago di Padang Pariaman. Koppas Padang Sago mendapat kepercayaan untuk mengelola pasar yang sebelumnya diurus bersama oleh tiga nagari di sana yakni Nagari Koto Baru, Nagari Batukalang, dan Koto Dalam.
Dikatakan Ketua Badan Pengawas koperasi itu, Amiruddin, koperasi mereka bisa dipercaya mengelola pasar lantaran pasar tidak terkelola dengan baik. Selain itu, aneka retribusi yang dipungut belum memberikan kontribusi nyata bagi ketiga nagari di kecamatan itu.
Apalagi dari 485 anggota koperasi, umumnya mengais rezeki di pasar yang sebelumnya dikelola oleh tiga nagari. Hal ini makin memudahkan proses pergantian pengelola pasar 3.
Setelah proposal yang diajukan, diverifikasi lewat dinas terkait di kabupaten dan provinsi dikabulkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Mereka mendapat kucuran dana Rp900 juta di pertengahan tahun 2013.
Dana itu bisa membangun 20 ruko permanen lengkap dengan rolling door-nya, dua los pasar ukuran 10x20 meter dengan rangka dan atap baja, dua kamar mandi dan wc umum. Pembangunannya dimulai Juli lalu. Dan bisa ditempati jika permufakatan dengan nagari tercapai. Pasar ini pun telah ditinjau oleh Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Ir. Emilia Suhaimi, MM akhir November lalu.
Menurut informasi dari Bendahara Koppas Padang Sago, Ramuni, setelah pasar siap dibangun, beberapa kali rapat digelar bersama walinagari beserta perangkatnya dan tokoh masyarakat ketiga nagari. Rapat teknis pengelolaan pasar dilanjutkan Kamis depan.
Koppas Padang Sago ternyata tidak sendiri. Ada empat koperasi lain yang kebagian program serupa. Koperasi itu adalah, Koppas Subur di Tanah Datar, KUD Lubuk Karya di Dharmasraya, KUD Kauman di Pasaman, Koperasi Transmigrasi Tani Makmur di Solok Selatan.
Sebagai gambaran, Kementerian Koperasi dan UKM sejak tahun 2003-2012, telah memfasilitasi Revitalisasi PasarTradisional sebanyak 265 unit di 207 kabupaten/kota pada 32 Provinsi dengan total anggaran Rp260,9 miliar. Sedangkan tahun 2013, mendapat alokasi sebanyak 207 unit dengan nilai Rp186,3 miliar.
Khusus untuk Sumatera Barat, Kemenkop dan UKM melalui Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha telah memfasilitasi revitalisasi pasar sejak 2003-2013 sebanyak 15 Unit Pasar di 14 daerah dengan total anggaran Rp13,6 miliar.
“Lewat revitalisasi pasar tradisional ini pemerintah lewat Kementerian Koperasi dan UKM ingin pengelolaan pasar tradisional lebih baik lagi. Semakin banyak yang mau berbelanja ke sana, berarti menambah kesempatan pedagang di sana meningkatkan taraf hidupnya,” tegas Achmad.
Ditambahkan Achmad revitalisasi pasar tradisional merupakan cara pemerintah membantu perbaikan fasilitas masyarakat lewat koperasi. Pasar bisa ditata sebaik mungkin sehingga hilanglah kesan becek, kumuh, tidak nyaman, semrawut yang selama ini melekat kepadanya.
“Kalau bisa semua pasar tradisional di Sumbar direvitalisasi,” ujarnya lagi. (zul)
“Ada nilai-nilai yang menunjang eksistensi pasar tradisional. Di dalamnya ada tawar menawar yang membuat interaksi sosial antara penjual dan pembeli. Silaturahmi yang terjadi di sana membuat banyak konsumen yang tetap memilih pasar tradisional untuk membeli kebutuhan sehari-hari,” ujar Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Achmad Charisma.
Dikatakan Achmad, nilai-nilai yang berkembang di pasar-pasar tradisional sejatinya merupakan nilai-nilai yang harus dikembangkan di koperasi. Jadi, jika pasar tradisional itu dikelola oleh koperasi maka ibarat keris balik ke gagangnya. Sangat cocok.
Tersebab itulah Kementerian Koperasi berusaha terus mempertahankan keberadaannya dengan cara merevitalisasi pasar tradisional ini lewat koperasi. Pasar itu dipercantik dan dikelola dengan baik. Keamanan dan kenyamanan konsumen di pasar diperhatikan.
Maka selain menguntungkan dari tingkat kunjungan konsumen yang meningkat, koperasi pengelolanya pun berkembang dari sewa toko, lapak dan retribusi yang ada. Akan lebih banyak lagi rupiah yang bisa diraup jika pasar itu berkembang jadi pasar wisata nantinya.
Selain itu, kata Achmad, nilai lebih daripada pasar yang dikelola koperasi berada pada manajemen yang dikelola dengan satu kebijakan. Yang berlaku adalah kebijakan yang ditetapkan koperasi bersama anggotanya. Ada ikatan emosional.
Sementara jika pengelolaannya dilakukan oleh pemerintah kota atau kabupaten, maka banyak instansi yang terkait di dalamnya. Ada dinas perindustrian dan perdagangan yang memantau harga dan timbangan, ada dinas pasar, ada dinas perhubungan dan lainnya. Mereka punya kebijakan tersendiri.
Katanya, revitalisasi pasar tradisional merupakan program strategis Kementerian Koperasi dan UKM sejak tahun 2003 dengan sasaran memberdayakan para pelaku usaha mikro yang selama ini tumbuh di lokasi pasar. Mereka belum memiliki fasilitas transaksi dan tempat berusaha yang layak, sehat, bersih dan nyaman serta dimiliki dan dikelola oleh para pedagang sendiri dalam wadah koperasi.
Merevitalisasi pasar berarti membantu mereka mengembangkan skala usahanya. Program ini diyakini secara langsung telah memperbaiki dan memperluas sarana ekonomi rakyat di daerah yang selaras dengan upaya pemerataan pembangunan dan upaya memperluas kesempatan kerja dan mengentaskan kemiskinan.
Pasar tradisional ini nantinya diharap jadi benteng penyelamat umkm dari serbuan produk negara lain jika masyarakat ekonomi ASEAN diberlakukan 2015 nanti.
Tentu saja program disambut luas oleh masyarakat. Salah satunya Pasar Padang Sago di Padang Pariaman. Koppas Padang Sago mendapat kepercayaan untuk mengelola pasar yang sebelumnya diurus bersama oleh tiga nagari di sana yakni Nagari Koto Baru, Nagari Batukalang, dan Koto Dalam.
Dikatakan Ketua Badan Pengawas koperasi itu, Amiruddin, koperasi mereka bisa dipercaya mengelola pasar lantaran pasar tidak terkelola dengan baik. Selain itu, aneka retribusi yang dipungut belum memberikan kontribusi nyata bagi ketiga nagari di kecamatan itu.
Apalagi dari 485 anggota koperasi, umumnya mengais rezeki di pasar yang sebelumnya dikelola oleh tiga nagari. Hal ini makin memudahkan proses pergantian pengelola pasar 3.
Setelah proposal yang diajukan, diverifikasi lewat dinas terkait di kabupaten dan provinsi dikabulkan oleh Kementerian Koperasi dan UKM. Mereka mendapat kucuran dana Rp900 juta di pertengahan tahun 2013.
Dana itu bisa membangun 20 ruko permanen lengkap dengan rolling door-nya, dua los pasar ukuran 10x20 meter dengan rangka dan atap baja, dua kamar mandi dan wc umum. Pembangunannya dimulai Juli lalu. Dan bisa ditempati jika permufakatan dengan nagari tercapai. Pasar ini pun telah ditinjau oleh Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha, Ir. Emilia Suhaimi, MM akhir November lalu.
Menurut informasi dari Bendahara Koppas Padang Sago, Ramuni, setelah pasar siap dibangun, beberapa kali rapat digelar bersama walinagari beserta perangkatnya dan tokoh masyarakat ketiga nagari. Rapat teknis pengelolaan pasar dilanjutkan Kamis depan.
Koppas Padang Sago ternyata tidak sendiri. Ada empat koperasi lain yang kebagian program serupa. Koperasi itu adalah, Koppas Subur di Tanah Datar, KUD Lubuk Karya di Dharmasraya, KUD Kauman di Pasaman, Koperasi Transmigrasi Tani Makmur di Solok Selatan.
Sebagai gambaran, Kementerian Koperasi dan UKM sejak tahun 2003-2012, telah memfasilitasi Revitalisasi PasarTradisional sebanyak 265 unit di 207 kabupaten/kota pada 32 Provinsi dengan total anggaran Rp260,9 miliar. Sedangkan tahun 2013, mendapat alokasi sebanyak 207 unit dengan nilai Rp186,3 miliar.
Khusus untuk Sumatera Barat, Kemenkop dan UKM melalui Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha telah memfasilitasi revitalisasi pasar sejak 2003-2013 sebanyak 15 Unit Pasar di 14 daerah dengan total anggaran Rp13,6 miliar.
“Lewat revitalisasi pasar tradisional ini pemerintah lewat Kementerian Koperasi dan UKM ingin pengelolaan pasar tradisional lebih baik lagi. Semakin banyak yang mau berbelanja ke sana, berarti menambah kesempatan pedagang di sana meningkatkan taraf hidupnya,” tegas Achmad.
Ditambahkan Achmad revitalisasi pasar tradisional merupakan cara pemerintah membantu perbaikan fasilitas masyarakat lewat koperasi. Pasar bisa ditata sebaik mungkin sehingga hilanglah kesan becek, kumuh, tidak nyaman, semrawut yang selama ini melekat kepadanya.
“Kalau bisa semua pasar tradisional di Sumbar direvitalisasi,” ujarnya lagi. (zul)