Saatnya Beralih ke Kendaraan Listrik
Padang - Produksi kendaraan bermotor yang melebihi 9 juta unit per tahun akan menyebabkan Indonesia boros dengan bahan bakar minyak (BBM). Padahal saat ini negara kita sudah menjadi net importir minyak bumi. Jika BBM harus disubsidi pemerintah maka Rp240 T yang tersedot untuk BBM saja.
“Saatnya kita berpindah ke energi alternatif. Kendaraan listrik ini salah satunya. Sebab jika terus berharap subsidi BBM yang terus kita boroskan, maka siap-siaplah untuk ‘melarat’ bersama-sama,” ujar Muslich Zainal Asikin pada Seminar Diseminasi Iptek Kendaraan Listrik yang diselenggarakan Kementerian Riset dan Teknologi di Padang, Senin (25/11).
Diungkapkan Muslich penggunaan energi alternatif ini harus dilakukan untuk menurunkan konsumsi BBM. Produksi kendaraan bermotor yang semakin banyak dan mudah pula mendapatkannya akan memicu peningkatan konsumsi BBM.
Menurut Muslich, kendaraan yang banyak mengakibatkan macet, saat macet ini penggunaan BBM tinggi. Maka tak heran, saat ini 60% penggunaan BBM ini disedot oleh transportasi.
Diakui Muslich masih banyak pro dan kontra seputar kendaraan listrik ini. Satu mobil listrik yang digunakan Dahlan Iskan mengalami tabrakan, banyak pemberitaan tentang itu. Atau mobil yang terbakar selagi dirakit. “ Banyak juga motor atau mobil berbahan bakar minyak bumi terpaksa ditarik karena ada kesalahan dalam perakitannya. Jadi tidak masalah, kita harus yakin kita bisa,” tegasnya.
Muslich mengajak hadirin untuk berkontribusi pada kendaraan listrik ini. Memang bisa diimpor namun alangkah baiknya jika bisa produksi dalam negeri. Sebab katanya, tentu banyak pihak dari orang atau negara yang biasa mengekspor kepada kita berupaya agar Indonesia tetap membeli kepada mereka.
Motor Listrik Unand
Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), kata Dr-Ing Uyung Gatot Syafrawidinata yang juga jadi pembicara dalam diseminasi itu mengungkapkan Unand tengah mengembangkan motor listrik. “Teman-teman di Jawa boleh mengembangkan mobil listrik, kita di sini biar mengembangkan motor listrik saja,” tegasnya.
Dikatakan Uyung, mereka telah sukses dalam penelitian seputar motor listrik ini. Bahkan hasil itu telah mendapat penghargaan terbaik dalam ajang penelitian antara mahasiswa tingkat nasional (PIMNAS 2009)
Waktu itu Dendi Adi Saputra, yang masih berstatus mahasiswa memodifikasi sepeda menjadi motor listrik. Karena keunikannya dia berhasil mengalahkan saingan dari perguruan tinggi lain. Kini dia yang sudah menjadi dosen di almamaternya itu, bahu membahu dengan Uyung Gatot mengembangkan motor listrik. Bahkan Azwir Dainy Tara, Anggota Komisi VII DPR yang digandeng Kemenristek dalam diseminasi itu, berminat mencarikan dana pengembangannya Rp200 juta. (zul)
“Saatnya kita berpindah ke energi alternatif. Kendaraan listrik ini salah satunya. Sebab jika terus berharap subsidi BBM yang terus kita boroskan, maka siap-siaplah untuk ‘melarat’ bersama-sama,” ujar Muslich Zainal Asikin pada Seminar Diseminasi Iptek Kendaraan Listrik yang diselenggarakan Kementerian Riset dan Teknologi di Padang, Senin (25/11).
Diungkapkan Muslich penggunaan energi alternatif ini harus dilakukan untuk menurunkan konsumsi BBM. Produksi kendaraan bermotor yang semakin banyak dan mudah pula mendapatkannya akan memicu peningkatan konsumsi BBM.
Menurut Muslich, kendaraan yang banyak mengakibatkan macet, saat macet ini penggunaan BBM tinggi. Maka tak heran, saat ini 60% penggunaan BBM ini disedot oleh transportasi.
Diakui Muslich masih banyak pro dan kontra seputar kendaraan listrik ini. Satu mobil listrik yang digunakan Dahlan Iskan mengalami tabrakan, banyak pemberitaan tentang itu. Atau mobil yang terbakar selagi dirakit. “ Banyak juga motor atau mobil berbahan bakar minyak bumi terpaksa ditarik karena ada kesalahan dalam perakitannya. Jadi tidak masalah, kita harus yakin kita bisa,” tegasnya.
Muslich mengajak hadirin untuk berkontribusi pada kendaraan listrik ini. Memang bisa diimpor namun alangkah baiknya jika bisa produksi dalam negeri. Sebab katanya, tentu banyak pihak dari orang atau negara yang biasa mengekspor kepada kita berupaya agar Indonesia tetap membeli kepada mereka.
Motor Listrik Unand
Fakultas Teknik Universitas Andalas (Unand), kata Dr-Ing Uyung Gatot Syafrawidinata yang juga jadi pembicara dalam diseminasi itu mengungkapkan Unand tengah mengembangkan motor listrik. “Teman-teman di Jawa boleh mengembangkan mobil listrik, kita di sini biar mengembangkan motor listrik saja,” tegasnya.
Dikatakan Uyung, mereka telah sukses dalam penelitian seputar motor listrik ini. Bahkan hasil itu telah mendapat penghargaan terbaik dalam ajang penelitian antara mahasiswa tingkat nasional (PIMNAS 2009)
Waktu itu Dendi Adi Saputra, yang masih berstatus mahasiswa memodifikasi sepeda menjadi motor listrik. Karena keunikannya dia berhasil mengalahkan saingan dari perguruan tinggi lain. Kini dia yang sudah menjadi dosen di almamaternya itu, bahu membahu dengan Uyung Gatot mengembangkan motor listrik. Bahkan Azwir Dainy Tara, Anggota Komisi VII DPR yang digandeng Kemenristek dalam diseminasi itu, berminat mencarikan dana pengembangannya Rp200 juta. (zul)