Talkshow dengan Rombongan dari Polewali
Rombongan dari Polewali Mandar berkunjung ke Universitas Ekasakti (Unes). Mereka terdiri dari ketua dan anggota DPRD Polewali Mandar, Kepala BPM dan seluruh camat pada kabupaten tersebut.
Kepada rombongan dari Sulawesi Barat itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti, Ketut Budaraga memaparkan teknologi pengolahan kelapa. Talkshow berlangsung di ruang sidang Rektor Unes.
Ketut mengungkapkan kegiatan yang sudah dilakukan bersama sentra inotek pengolahan kelapa terpadu dari fakultas yang dia pimpin. Dikatakannya, dengan pengolahan secara terpadu, diperoleh nilai tambah.
“Selama ini petani baru memanfaatkan buahnya. Sementara limbahnya seperti tempurung, sabut dan airnya belum diberikan penanganan. Padahal kalau diolah akan memberikan nilai tambah lebih besar dari buah kelapa itu sendiri,” ujarnya.
Berdasarkan pemikiran itu, dibentuklah sentra inotek. Aktivitasnya meliputi pengkajian dan pengolahan kelapa terpadu dalam rangka pengabdian sejak 2005. Ketut yakin pengolahan terpadu ini amat bermanfaat. Sebab potensi kelapa di Sumatra Barat relatif tinggi.
Mereka sudah menyarankan kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Barat untuk mengambil langkah strategis guna menjamin kelestarian pohon kelapa. Misalnya, penanaman kembali pohon kelapa untuk peremajaan, disamping untuk mengganti batang kelapa yang sudah banyak ditebang untuk bahan bangunan pasca gempa 2009.
Ketut pun menegaskan, limbah kelapa pun bisa diolah. Dicontohkannya air kelapa bisa diolah menjadi nata de coco. Sabut bisa diolah menjadi keset, tali kapal, dan papan partikel.
Tempurung kelapa, kata Ketut, bisa dijadikan briket, arang aktif, souvenir. Tak hanya itu, asap pembakaran tempurung kelapa bisa dijadikan asap cair yang berguna untuk pengawet dan pembasmi hama dan penyakit. Buah kelapa diolah pula menjadi VCO. Bahkan kompor briket tahan panas yang mereka hasilkan sudah mendapat paten. (zul)
Kepada rombongan dari Sulawesi Barat itu, Dekan Fakultas Pertanian Universitas Ekasakti, Ketut Budaraga memaparkan teknologi pengolahan kelapa. Talkshow berlangsung di ruang sidang Rektor Unes.
Ketut mengungkapkan kegiatan yang sudah dilakukan bersama sentra inotek pengolahan kelapa terpadu dari fakultas yang dia pimpin. Dikatakannya, dengan pengolahan secara terpadu, diperoleh nilai tambah.
“Selama ini petani baru memanfaatkan buahnya. Sementara limbahnya seperti tempurung, sabut dan airnya belum diberikan penanganan. Padahal kalau diolah akan memberikan nilai tambah lebih besar dari buah kelapa itu sendiri,” ujarnya.
Berdasarkan pemikiran itu, dibentuklah sentra inotek. Aktivitasnya meliputi pengkajian dan pengolahan kelapa terpadu dalam rangka pengabdian sejak 2005. Ketut yakin pengolahan terpadu ini amat bermanfaat. Sebab potensi kelapa di Sumatra Barat relatif tinggi.
Mereka sudah menyarankan kepada Pemerintah Provinsi Sumatra Barat untuk mengambil langkah strategis guna menjamin kelestarian pohon kelapa. Misalnya, penanaman kembali pohon kelapa untuk peremajaan, disamping untuk mengganti batang kelapa yang sudah banyak ditebang untuk bahan bangunan pasca gempa 2009.
Ketut pun menegaskan, limbah kelapa pun bisa diolah. Dicontohkannya air kelapa bisa diolah menjadi nata de coco. Sabut bisa diolah menjadi keset, tali kapal, dan papan partikel.
Tempurung kelapa, kata Ketut, bisa dijadikan briket, arang aktif, souvenir. Tak hanya itu, asap pembakaran tempurung kelapa bisa dijadikan asap cair yang berguna untuk pengawet dan pembasmi hama dan penyakit. Buah kelapa diolah pula menjadi VCO. Bahkan kompor briket tahan panas yang mereka hasilkan sudah mendapat paten. (zul)
