Program Ekonomi Kandris: Benahi Pasar, Bangkitkan Perekonomian Masyarakat
Kondisi kekinian Kota Padang jadi sebab Putra Lapai, Kandris Asrin merasa terpanggil. Lelaki yang berhasil mengembangkan jaringan usahanya di Pekanbaru, Riau ini ingin membenahinya.
“Satu per satu potensi kota ini berpindah ke kota lain. Apakah kita hanya diam menyaksikan hingga semuanya terlepas,” ungkap Kandris, Kamis (3/10).
Dijelaskannya, dulu kota ini merupakan pusat perdagangan. Pedagang dari daerah hingga provinsi tetangga menuju Padang untuk berniaga. Kita pernah menyaksikan betapa pertokoan di belakang Lintas Andalas (kini Plaza Andalas) jadi pusat grosiran. Namun kini tampaknya beralih ke Bukittinggi.
Bandara Tabing yang dulu hiruk pikuk, kini digantikan Bandara Internasional Minangkabau yang berlokasi di Kabupaten Padang Pariaman. Asrama Haji di Tabing pun nantinya bakal berpindah ke Padang Pariaman juga. Bahkan, kata Kandris, pelabuhan perikanan pun nantinya juga bakal pindah.
“Mungkin karena kesalahan kita, pemerintah kita, aneka industri yang pernah ada di sini, meredup bisnisnya. Akhirnya tutup. Sebut saja Sumatex Subur (industri tekstil), poliguna nusantara (industri seng, Asia Biskuit, Rimba Sungkyong (kayu lapis),” ujarnya.
Kandris menyatakan, jika kondisi ini dibiarkan, apa yang bisa dibanggakan Padang? Apa sumber pendapatan asli daerah ini?
Sebagai orang yang jatuh bangun membina usaha, Kandris melihat ada peluang pengembangan Padang kota tercinta ke depan. Jika mengandalkan APBD, jelas tak akan mampu. Lagi pula kegiatannya harus multiyear.
Ditegaskannya, Walikota Padang ke depan harus kreatif mencari sumber pendanaan untuk membangun kota. Masih banyak program atau kegiatan kementerian yang bisa digunakan untuk itu. Semua tergantung kepada walikota dan jajaran di Bappeda mampu membawanya ke Padang. Ditambahkannya, jangan hanya bisa buat program yang sejatinya cuma melanjutkan yang sudah ada. Ketua Bappeda nantinya harus kreatif dan inovatif. Begitu juga dengan sekdanya.
Selain itu, bisa memanfaatkan dana pihak ketiga (investor). Namun harus jelas aturannya, sehingga kehadiran investor memperkuat ekonomi masyarakat di daerah ini. Jangan sampai investor malah mematikan ekonomi warga.
Perekonomian mutlak harus diupayakan pembenahan nya. Pasar, terutama pasar raya harus dibenahi. Pembangunannya harus dipercepat dengan mengikutsertakan pedagang di sana.
Menurut dia, pedagang kaki lima ditata sedemikian rupa, transportasi ke pasar hendaknya dijamin lancar. Saat ini akses ke pasar malah ‘dihalangi’ sebagian pedagang yang dengan tanpa dosa menggunakan jalanan umum sebagai tempat berdagang.
“Insya Allah dengan kebersamaan warga kota, semua bisa tercapai. Untuk itulah kami menekankan jalinan kebersamaan untuk membenahi Padang,” kata Kandris. (*)
“Satu per satu potensi kota ini berpindah ke kota lain. Apakah kita hanya diam menyaksikan hingga semuanya terlepas,” ungkap Kandris, Kamis (3/10).
Dijelaskannya, dulu kota ini merupakan pusat perdagangan. Pedagang dari daerah hingga provinsi tetangga menuju Padang untuk berniaga. Kita pernah menyaksikan betapa pertokoan di belakang Lintas Andalas (kini Plaza Andalas) jadi pusat grosiran. Namun kini tampaknya beralih ke Bukittinggi.
Bandara Tabing yang dulu hiruk pikuk, kini digantikan Bandara Internasional Minangkabau yang berlokasi di Kabupaten Padang Pariaman. Asrama Haji di Tabing pun nantinya bakal berpindah ke Padang Pariaman juga. Bahkan, kata Kandris, pelabuhan perikanan pun nantinya juga bakal pindah.
“Mungkin karena kesalahan kita, pemerintah kita, aneka industri yang pernah ada di sini, meredup bisnisnya. Akhirnya tutup. Sebut saja Sumatex Subur (industri tekstil), poliguna nusantara (industri seng, Asia Biskuit, Rimba Sungkyong (kayu lapis),” ujarnya.
Kandris menyatakan, jika kondisi ini dibiarkan, apa yang bisa dibanggakan Padang? Apa sumber pendapatan asli daerah ini?
Sebagai orang yang jatuh bangun membina usaha, Kandris melihat ada peluang pengembangan Padang kota tercinta ke depan. Jika mengandalkan APBD, jelas tak akan mampu. Lagi pula kegiatannya harus multiyear.
Ditegaskannya, Walikota Padang ke depan harus kreatif mencari sumber pendanaan untuk membangun kota. Masih banyak program atau kegiatan kementerian yang bisa digunakan untuk itu. Semua tergantung kepada walikota dan jajaran di Bappeda mampu membawanya ke Padang. Ditambahkannya, jangan hanya bisa buat program yang sejatinya cuma melanjutkan yang sudah ada. Ketua Bappeda nantinya harus kreatif dan inovatif. Begitu juga dengan sekdanya.
Selain itu, bisa memanfaatkan dana pihak ketiga (investor). Namun harus jelas aturannya, sehingga kehadiran investor memperkuat ekonomi masyarakat di daerah ini. Jangan sampai investor malah mematikan ekonomi warga.
Perekonomian mutlak harus diupayakan pembenahan nya. Pasar, terutama pasar raya harus dibenahi. Pembangunannya harus dipercepat dengan mengikutsertakan pedagang di sana.
Menurut dia, pedagang kaki lima ditata sedemikian rupa, transportasi ke pasar hendaknya dijamin lancar. Saat ini akses ke pasar malah ‘dihalangi’ sebagian pedagang yang dengan tanpa dosa menggunakan jalanan umum sebagai tempat berdagang.
“Insya Allah dengan kebersamaan warga kota, semua bisa tercapai. Untuk itulah kami menekankan jalinan kebersamaan untuk membenahi Padang,” kata Kandris. (*)
