Header Ads

  • Breaking News

    Perguruan Tinggi, Alumni dan Kepemimpinan

    Oleh: Surya Tri Harto

    Suatu ketika saat saya mendapat kesempatan untuk mengikuti sebuah program kepemimpinan dari sebuah lembaga terkemuka, saya dikejutkan oleh celetukan skeptis seorang teman yang sambil lalu menyatakan untuk apa hal-hal seperti ini diajarkan. Pemimpin itu dilahirkan dan dia akan belajar sendiri sambil menghadapi persoalan nyata di hadapannya. 

    Ketika itu kami sedang membahas perilaku serta keterampilan  kepemimpinan apa yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin agar ia menjadi pemimpin yang patut diteladani. Sejenak saya tercenung, namun segera mengendalikan dan menenangkan diri untuk tidak segera bereaksi. Hari itu saya memutuskan untuk tidak memberikan tanggapan atas pembicaraan sambil lalu tersebut. Namun demikian momen tersebut telah memicu beberapa pertanyaan dalam diri saya. Benarkah seorang pemimpin dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi pemimpin? 

    Apakah orang-orang yang terlahir bukan sebagai pemimpin ditakdirkan hanya menjadi pengikut? Benarkah seorang pemimpin tidak perlu belajar hal-hal tentang perilaku dan keterampilan kepemimpinan karena ia akan belajar sendiri sambil menghadapi persoalan nyata di hadapannya. Kelak ketika saya menemukan jawabannya, pernyataan skeptis teman itu telah membuat hati dan pikiran saya semakin mantap untuk terus menekuni hal-hal terkait kepemimpinan.

    Semua adalah Pemimpin
    Tidak sulit bagi saya untuk menemukan jawaban atas pertanyaan pertama. Cukup banyak literatur yang dapat ditemukan yang dapat menjelaskan. Untuk menghindari berhentinya diskusi karena absolutisme dogmatis literasi keagamaan, saya mencari berbagai referensi, membaca berbagai kepustakaan tentang kepemimpinan. Pada akhirnya literasi keagamaan akan menjadi rujukan konfirmatif dari pemahaman yang disimpulkan.

    Singkat kata saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa pemimpin itu ternyata tidak dilahirkan, tapi setiap orang adalah pemimpin sejak ia dilahirkan. Ini berdasarkan definisi bahwa pemimpin bukanlah semata melekat pada orang yang memiliki legitimasi formal tetapi pada siapapun yang kemudian kualitas kepribadiannya diterima oleh khalayak sebagai pemimpin, bahkan tanpa diucapkan sekalipun. Pada akhirnya hati kecil lah yang berbicara. Artinya tersirat jelas bahwa seorang yang memegang legitimasi jabatan tertinggi sekalipun dari suatu kelompok, lembaga, wilayah atau bahkan suatu negara belum lah tentu seorang pemimpin, tapi pengakuan dari hati kecil pengikut nya lah yang akan mentahbiskan dirinya sebagai pemimpin sejati.

    Pertanyaan lain yang mengiringinya juga akan timbul.  Bukankan selalu ada suka dan tidak suka dari para pengikut terhadap seorang pemimpin? Artinya pengakuan terhadap kepemimpinan seseorang tidaklah mutlak dari pengikutnya karena adanya perbedaan pandangan dan penilaian terhadap sang pemimpin. Menurut saya ada dua jawaban terhadap hal ini. Jawaban pertama, semua kembali kepada hati kecil dengan keyakinan bahwa hati kecil manusia tidak pernah berdusta. 

    Jawaban kedua lebih fragmatis, bahwa mungkin seseorang adalah pemimpin buat sebagian orang, sementara buat sebagian lainnya tidak. Namun dua jawaban tersebut menurut hemat saya tidak menggugurkan premis bahwa pemimpin tidaklah dilahirkan, tapi semua orang dilahirkan sebagai pemimpin. Ia kemudian dibentuk oleh berbagai proses baik pengayaan maupun penajaman. Literasi keagamaan saya kira mengkonfirmasi bahwa setiap orang dilahirkan sebagai pemimpin jika kita merujuk kepada Pengembangan Talent Leaders.

    Pertanyaan pertama apakah pemimpin dilahirkan atau dibentuk saya kira sudah terjawab. Pertanyaan berikut selanjutnya juga mestinya sudah terjawab - bahwa karena semua orang terlahir sebagai pemimpin, berarti pada dasarnya tidak ada yang terlahir sebagai pengikut. Hanya saja kemudian perjalanan penempaan kepemimpinannya kemudian membuat ia tidak berkesempatan untuk tampil sebagai pemimpin suatu kelompok.

    Kini pertanyaan ketiga, benarkah seorang pemimpin tidak perlu belajar hal-hal tentang perilaku dan keterampilan kepemimpinan karena ia akan belajar sendiri sambil menghadapi persoalaan nyata di hadapannya?

    Banyak hasil riset yang  menunjukkan bahwa perilaku kepemimpinan dapat dilatih. Dan banyak juga hasil riset yang menunjuklan bahwa faktor genetik talenta kepemimpinan hanya berperan sebanyak 30 persen. Selebihnya adalah faktor pengembangan perilaku dan ketrampilan kepemimpinan. Benar bahwa menghadapi langsung permasalahan nyata adalah bagian dari penempaan, namun melepas seseorang di rimba belantara tanpa kompas akan lebih besar kemungkinannya ia tersesat dari pada ia diberi kompas.

    Atas dasar logika berpikir inilah saya ingin mengajukan pertanyaan kepada kita semua apakah kita sudah melakukan langkah-langkah untuk pengembangan perilaku dan keterampilan kepemimpinan kepada leaders talent kita agar ia tidak tersesat di rimba belantara tempat latihannya menghadapi masalah nyata dalam praktek kepemimpinannya? 

    Jika dengan penuh semangat pembelaan kita menjawab sudah, apakah kemudian langkah pengembangan perilaku dan keterampilan kepemimpinan itu sudah terprogram dan terinstitusi dengan baik? Akan banyak jawaban pembelaan  dan pembenaran bahwa berbagai institusi yang menjadi sumber leaders talent telah memprogramkannya dan mencetak kader pemimpin dengan pembekalan keterampilan dan perilaku kepemimpinan.

    Response balik saya atas hal itu adalah, biarlah pembelaan itu dilakukan oleh berbagai institusi terkait. Namun saya mengajak perguruan tinggi untuk segera melakukannya secara siatematis dengan dukungan konsisten dan jangka panjang dari ikatan alumni.

    Dengan demikian ada tiga hal yang sekaligus dapat kita capai. Pertama, perguruan tinggi akan lebih berperan dalam melakukan talent scouting. Kedua, kita memberi kesempaatan terbaik bagi talent leaders untuk diisi dan dikembangkan sebelum diterjunkan. Dan ketiga, asosiasi alumni juga akan memiliki program dan tanggung jawab yang jelas dalam pengembangan perilaku dan keterampilan kepemimpinan talent leaders, ketimbang larut dalam stigma organisasi paguyuban.

    Pada titik ini, saya menawarkan agar perguruan tinggi sebagai institusi sumber leaders talent melakukan talent scouting yang sistematis dan berintegritas terhadap talent leaders dan bekerjasama dengan asosiasi alumni untuk memberi kesempatan kepada mereka untuk dikembangkan ketrrampilan dan perilaku kepemimpinannya. Universitas Andalas dalam lustrum daan kongres ikatan alumninya memiliki momentum yang bail untuk mencanangkan gerakan itu. (*)
    OKEBANA.COM merupakan anggota resmi dari Asosiasi Media Online Nusantara (DPN ASANTARA) dengan nomor register 003/REG/DPN-ASANTARA/VII/2026.

    Post Top Ad

    Post Bottom Ad

    ad728