Perguruan Tinggi, Alumni dan Kepemimpinan
Suatu ketika saat saya mendapat kesempatan untuk mengikuti
sebuah program kepemimpinan dari sebuah lembaga terkemuka, saya
dikejutkan oleh celetukan skeptis seorang teman yang sambil lalu
menyatakan untuk apa hal-hal seperti ini diajarkan. Pemimpin itu
dilahirkan dan dia akan belajar sendiri sambil menghadapi persoalan
nyata di hadapannya.
Ketika itu kami sedang membahas perilaku serta
keterampilan kepemimpinan apa yang mesti dimiliki oleh seorang pemimpin
agar ia menjadi pemimpin yang patut diteladani. Sejenak saya tercenung,
namun segera mengendalikan dan menenangkan diri untuk tidak segera
bereaksi. Hari itu saya memutuskan untuk tidak memberikan tanggapan atas
pembicaraan sambil lalu tersebut. Namun demikian momen tersebut telah
memicu beberapa pertanyaan dalam diri saya. Benarkah seorang pemimpin
dilahirkan dan ditakdirkan untuk menjadi pemimpin?
Apakah orang-orang
yang terlahir bukan sebagai pemimpin ditakdirkan hanya menjadi pengikut?
Benarkah seorang pemimpin tidak perlu belajar hal-hal tentang perilaku
dan keterampilan kepemimpinan karena ia akan belajar sendiri sambil
menghadapi persoalan nyata di hadapannya. Kelak ketika saya menemukan
jawabannya, pernyataan skeptis teman itu telah membuat hati dan pikiran
saya semakin mantap untuk terus menekuni hal-hal terkait kepemimpinan.
Semua adalah Pemimpin
Tidak sulit bagi saya untuk menemukan jawaban atas
pertanyaan pertama. Cukup banyak literatur yang dapat ditemukan yang
dapat menjelaskan. Untuk menghindari berhentinya diskusi karena
absolutisme dogmatis literasi keagamaan, saya mencari berbagai
referensi, membaca berbagai kepustakaan tentang kepemimpinan. Pada
akhirnya literasi keagamaan akan menjadi rujukan konfirmatif dari
pemahaman yang disimpulkan.
Singkat kata saya sampai pada suatu kesimpulan bahwa
pemimpin itu ternyata tidak dilahirkan, tapi setiap orang adalah
pemimpin sejak ia dilahirkan. Ini berdasarkan definisi bahwa pemimpin
bukanlah semata melekat pada orang yang memiliki legitimasi formal
tetapi pada siapapun yang kemudian kualitas kepribadiannya diterima oleh
khalayak sebagai pemimpin, bahkan tanpa diucapkan sekalipun. Pada
akhirnya hati kecil lah yang berbicara. Artinya tersirat jelas bahwa
seorang yang memegang legitimasi jabatan tertinggi sekalipun dari suatu
kelompok, lembaga, wilayah atau bahkan suatu negara belum lah tentu
seorang pemimpin, tapi pengakuan dari hati kecil pengikut nya lah yang
akan mentahbiskan dirinya sebagai pemimpin sejati.
Pertanyaan lain yang mengiringinya juga akan timbul.
Bukankan selalu ada suka dan tidak suka dari para pengikut terhadap
seorang pemimpin? Artinya pengakuan terhadap kepemimpinan seseorang
tidaklah mutlak dari pengikutnya karena adanya perbedaan pandangan dan
penilaian terhadap sang pemimpin. Menurut saya ada dua jawaban terhadap
hal ini. Jawaban pertama, semua kembali kepada hati kecil dengan
keyakinan bahwa hati kecil manusia tidak pernah berdusta.
Jawaban kedua
lebih fragmatis, bahwa mungkin seseorang adalah pemimpin buat sebagian
orang, sementara buat sebagian lainnya tidak. Namun dua jawaban tersebut
menurut hemat saya tidak menggugurkan premis bahwa pemimpin tidaklah
dilahirkan, tapi semua orang dilahirkan sebagai pemimpin. Ia kemudian
dibentuk oleh berbagai proses baik pengayaan maupun penajaman. Literasi
keagamaan saya kira mengkonfirmasi bahwa setiap orang dilahirkan
sebagai pemimpin jika kita merujuk kepada Pengembangan Talent Leaders.
Pertanyaan pertama apakah pemimpin dilahirkan atau dibentuk
saya kira sudah terjawab. Pertanyaan berikut selanjutnya juga mestinya
sudah terjawab - bahwa karena semua orang terlahir sebagai pemimpin,
berarti pada dasarnya tidak ada yang terlahir sebagai pengikut. Hanya
saja kemudian perjalanan penempaan kepemimpinannya kemudian membuat ia
tidak berkesempatan untuk tampil sebagai pemimpin suatu kelompok.
Kini pertanyaan ketiga, benarkah seorang pemimpin tidak
perlu belajar hal-hal tentang perilaku dan keterampilan kepemimpinan
karena ia akan belajar sendiri sambil menghadapi persoalaan nyata di
hadapannya?
Banyak hasil riset yang menunjukkan bahwa perilaku
kepemimpinan dapat dilatih. Dan banyak juga hasil riset yang menunjuklan
bahwa faktor genetik talenta kepemimpinan hanya berperan sebanyak 30
persen. Selebihnya adalah faktor pengembangan perilaku dan ketrampilan
kepemimpinan. Benar bahwa menghadapi langsung permasalahan nyata adalah
bagian dari penempaan, namun melepas seseorang di rimba belantara tanpa
kompas akan lebih besar kemungkinannya ia tersesat dari pada ia diberi
kompas.
Atas dasar logika berpikir inilah saya ingin mengajukan
pertanyaan kepada kita semua apakah kita sudah melakukan langkah-langkah
untuk pengembangan perilaku dan keterampilan kepemimpinan kepada
leaders talent kita agar ia tidak tersesat di rimba belantara tempat
latihannya menghadapi masalah nyata dalam praktek kepemimpinannya?
Jika
dengan penuh semangat pembelaan kita menjawab sudah, apakah kemudian
langkah pengembangan perilaku dan keterampilan kepemimpinan itu sudah
terprogram dan terinstitusi dengan baik? Akan banyak jawaban pembelaan
dan pembenaran bahwa berbagai institusi yang menjadi sumber leaders
talent telah memprogramkannya dan mencetak kader pemimpin dengan
pembekalan keterampilan dan perilaku kepemimpinan.
Response balik saya atas hal itu adalah, biarlah pembelaan
itu dilakukan oleh berbagai institusi terkait. Namun saya mengajak
perguruan tinggi untuk segera melakukannya secara siatematis dengan
dukungan konsisten dan jangka panjang dari ikatan alumni.
Dengan demikian ada tiga hal yang sekaligus dapat kita
capai. Pertama, perguruan tinggi akan lebih berperan dalam melakukan
talent scouting. Kedua, kita memberi kesempaatan terbaik bagi talent
leaders untuk diisi dan dikembangkan sebelum diterjunkan. Dan ketiga,
asosiasi alumni juga akan memiliki program dan tanggung jawab yang jelas
dalam pengembangan perilaku dan keterampilan kepemimpinan talent
leaders, ketimbang larut dalam stigma organisasi paguyuban.
Pada titik ini, saya menawarkan agar perguruan tinggi
sebagai institusi sumber leaders talent melakukan talent scouting yang
sistematis dan berintegritas terhadap talent leaders dan bekerjasama
dengan asosiasi alumni untuk memberi kesempatan kepada mereka untuk
dikembangkan ketrrampilan dan perilaku kepemimpinannya. Universitas
Andalas dalam lustrum daan kongres ikatan alumninya memiliki momentum
yang bail untuk mencanangkan gerakan itu. (*)
