Rp100 Miliar Untuk Tingkatkan Mutu Univ. Bung Hatta
Padang - Nama Besar Bung Hatta yang disandang Universitas Bung Hatta menuntut semua elemen di perguruan tinggi swasta terkemuka di Kopertis Wilyah X ini harus meneladani kepribadian Mohammad Hatta.“Bung Hatta memiliki sikap jujur, santun, disiplin dan sederhana dalam kehidupan sehari-harinya. Mengharumkan nama universitas ini, mau tak mau kita harus menjiwai sikap Bung Hatta itu sendiri,” ujar Ketua Dewan Pembina Yayasan Pendidikan Bung Hatta (YPBH), H.Zuiyen Rais, Selasa (9/8).
Untuk mewujudkannya, yayasan harus melakukan reformasi total di tubuh yayasan, kepengurusan lembaga pendidikan dan unit usaha di bawah naungan yayasan. Akan ada restrukturisasi menyeluruh (komprehensif), pembenahan sistem rekrutmen.
Dosen dan karyawan akan ditempatkan sesuai kompetensi dan kebutuhan organisasi. Jika tidak memenuhi kualifikasi akan diminta untuk sikap dan meningkatkan kemampuan diri, atau kalau tak memungkinkan lagi diberi pilihan berhenti.
Sistem rekrutmen diperbaiki. Mereka baru bisa masuk Bung Hatta setelah memenuhi kualifikasi, menjalani proses seleksi. Khusus pengajar, dia harus punya potensi sebagai pendidik, pembimbing dan mampu berdisiplin dan berintegritas tinggi.
Tak kalah pentingnya, pembenahan yang segera dilakukan itu adalah perbaikan kesejahteraan tenaga pengajar dan karyawan di kampus itu. “Pengajar dan karyawan harus dapat perhatian penuh agar loyalitas dan dedikasinya bisa diharapkan untuk kejayaan universitas yang sudah berumur 35 tahun ini. Mereka ujung tombak kita,” ujar mantan Walikota Padang 1993-2003 itu.
Untuk keperluan ini, yayasan menganggarkan dana sebesar Rp100 miliar. Anggaran ini naik 17 persen dari tahun sebelumnya. Penggunaan anggaran harus mengacu pada jumlah mahasiswa dan berbasis kinerja.
Menurut perhitungan Zuiyen yang baru ditunjuk menggantikan alm. Hasan Basri Durin selaku Dewan Pembina Yayasan tersebut, dana sebesar itu akan dialokasikan untuk perbaikan kesejahteraan dosen dan karyawan, sarana dan prasarana, tata kelola dan membangun tower delapan lantai di Kampus II Air Pacah.
Perbaikan kesejahteraan dilakukan dengan mengacu kepada pegawai negeri tahun 2015. Diakuinya, kenaikan gaji ini pasti membebani anggaran mereka. Namun yayasan berketetapan perbaikan kesejahteraan harus tetap dilakukan. Uang yang diperoleh dari universitas harus dikembalikan ke universitas berupa kenaikan gaji, perbaikan sarana dan prasarana serta peningkatan mutu institusi dan lulusan.
Menurut kalkulasi, dari animo masyarakat saat ini, target 2.600 mahasiswa bisa terpenuhi. Kini saja sudah terdaftar lebih kurang 2.000-an mahasiswa. Untuk mencapai target, Zuiyen minta seluruh lini berupaya keras. Gunakan jaringan pertemanan, komunitas dan media sosial yang dipunyai untuk menggaet sebanyak mungkin mahasiswa ke kampus tersebut.
Pendapatan universitas akan kembali kepada dosen, karyawan dan mahasiswa itu sendiri. Biaya pendidikan yang diterapkan di Univ Bung Hatta hanyalah untuk mengangkat kualitas di kampus yang baru saja meluluskan 1.042 wisudawan tersebut.
Diingatkan Zuiyen, sistem penggajian dosen dan karyawan yang mengacu kepada pegawai negeri yang telah diterapkan sejak dulu ini saja sudah dipuji mantan Ketua Kopertis Wilayah X, Ganefri yang kini jadi Rektor Universitas Negeri Padang (UNP). Apalagi jika sudah dilakukan remunerasi serta ditambah jumlah mahasiswa melebih target yang ditetapkan. Apresiasi pasti menanti.
Untuk lebih mematrikan semangat Bung Hatta, di kampus II bakal dibangun menara setinggi delapan lantai. Dua untuk auditorium, dua untuk unit usaha bagi pengembangan wirausaha mahasiswa, dan sisanya untuk pusat perkantoran kampus itu.
Wujudkan Cita-cita HBD
Dari segi umur dan kesehatan, Zuiyen bisa saja memilih untuk tidak menerima amanah sebagai Ketua Dewan Pembina. Namun semua stakeholder sepakat untuk mendapuknya sebagai pengganti Hasan Basri Durin (HBD) untuk membina yayasan itu.
Bahkan anak dan isteri Zuiyen bermohon agar dia lebih memperhatikan kesehatannya. Jangan lagi memikirkan kampus karena masih banyak yang bisa melakukannya.
Namun di usianya yang sudah 76 itu, Zuiyen berketetapan hati untuk melanjutkan cita-cita HBD untuk membangun lembaga pendidikan tinggi yang berkualitas bagi anak negeri.
Diceritakannya, tahun 1980 Zuiyen yang saat itu menjabat sebagai Kepala Bappeda Padang dipanggil HBD ke ruangannya. HBD lalu mengungkapkan isi hatinya seputar perlunya lembaga pendidikan yang bisa membantu tamatan SLTA di Padang khususnya dan Sumbar umumnya, untuk mendapatkan pendidikan tinggi yang berkualitas dan terjangkau.
HBD prihatin, anak-anak daerah ini hanya bisa ditampung perguruan tinggi yang ada sebanyak 5.000 orang. Sementara jumlah lulusan mencapai 20.000 orang. Jika harus ke daerah lain, tak bakalan banyak yang bisa mengenyam pendidikan tinggi.
Hasil gerak cepat Zuiyen dan tim, pada 1981 lahirlah Universitas Bung Hatta. Ruh mengedepankan sisi pendidikan ketimbang keuntungan harus tetap menjiwai universitas ini. Untuk menjaganya inilah Zuiyen mau memimpin Dewan Pembina jelang terpilih pengganti yang definitif.
“Paling berkesan bagi saya adalah penegasan Pak Hasan saat pertemuan dengan seluruh unsur di Universitas Bung Hatta, Februari lalu. Masih terngiang di telinga bagaimana harapan beliau agar menjaga nama baik Bung Hatta dan meneladani sikap proklamator itu,” pungkas pria yang memberikan dukungan pada Mahyeldi dan Emzalmi pada pemilihan walikota dan wakil walikota Padang. (zul)