Anak Minang, Si Raja Oleh-oleh dari Batam
Padang - Bagi yang pernah ke Batam pasti tahu Kek Pisang
Villa adalah ikonnya oleh-oleh daerah otoritas
Batam yang dulunya belum punya ikon kuat tentang oleh-oleh,
berkat Denni, kini bisa membanggakan tentengannya jika ada teman atau
relasi yang berkunjung ke sana.
Bahkan, Balikpapan pun kini punya pula Gulung Jenebora,
Banjarmasin memiliki Wadai Waluh, Padang punya Roti Randang. Pekanbaru
pun bangga dengan Viz Cake. Semua gara-gara Denni dan Selvi. Daerah
lainnya siap menanti tangan dingin pria kelahiran Magelang 36 tahun lalu
itu.
Alumni Fakultas Teknik Universitas Andalas angkatan 1998
ini termasuk murid yang pandai di kampusnya. Dia mampu menamatkan kuliah
dalam waktu 4,5 tahun dari fakultas teknik. Keluar dari kampus, dia
direkrut menjadi Assisten Engineer di PT Casio Batam.
Dia pun menatap masa depan dengan optimis. Dia berharap
sukses di bidang kuliah yang digeluti. Dia pun mulai bermimpi memiliki
rumah, mobil dan barang yang bagus.
Namun apa yang dicita-citakannya dulu tidak seindah
kenyataan. ”Ternyata faktanya jauh dari yang kita harapkan,” ujar
lulusan Teknik Elektro Universitas Andalas itu mulai berkisah.
Keterpanaannya akan kenyataan hidup yang dijalani makin
menjadi setelah menikah dengan wanita pujaannya, Selvi Nurlia, di tahun
2004. Alam bawah sadar mengetuk sanubarinya. Gaji dari perusahaan tempat
dia bekerja tidak akan sanggup memenuhi kebutuhan keluarganya
sehari-hari. Apalagi mewujudkan mimpinya untuk memiliki rumah dan mobil.
Serasa makin jauh panggang dari api.
Sempat terfikir oleh putra Koto Nan Ompek Payakumbuh ini
untuk berhenti dari perusahaan tersebut. Namun keraguan melanda. Dia
bimbang. Berbagai pertimbangan muncul silih berganti, membuatnya makin
pusing tujuh keliling.
Puncak kegalauannya saat isterinya hamil besar. Terlebih
saat melihat istri dengan perutnya yang kian membesar, melepasnya pergi
kerja dengan pandangan yang sarat makna. Memang tak pernah terucap, tapi
Denni tahu perempuan yang sama kuliah di Elektro Unand itu terenyuh melihat
perjuangan suami yang kadang kerja shift malam, kadang pagi. Selalu di
bawah bayang-bayang kecelakaan kerja atau kecelakaan dalam perjalanan.
“Di sinilah mental saya seperti terpukul martil puluhan
kilo. Harus ada upaya menambah penghasilan di luar gaji yang diterima
per bulan dari perusahaan. Harus,” tegasnya.
Tak kuat memendam sendiri, Denni mendiskusikannya bersama
si pujaan hati. Didapat kata sepakat, sepulang kerja dia membeli kerupuk
udang mentah cap Aloha. Sesampai di rumah, dia dan istri harus
bahu-membahu bekerja. Menggoreng, mendinginkan dan membungkus kerupuk
dengan plastik. Lalu keesokan harinya membagi-bagikannya ke restoran
Padang yang ada di Batuaji.
”Kami melakukannya secara konvensional. Kompor yang kami gunakan memasak pun hadiah pernikahan pula,” kenangnya sambil tertawa.
Sukses kecil dengan usaha sampingan tersebut membuat dia
bisa menghasilkan lebih besar dari gaji bulanannya di perusahaan selama
empat bulan. Sungguh menjanjikan, namun ujian pun datang.
Tiba-tiba Selvi Nurlia minta berhenti karena kecapekan. ”Saya maklum karena pada waktu itu dia hamil,” ungkapnya.
Usaha terhenti hingga isteri yang juga berasal dari
Payakumbuh melahirkan buah hati mereka. Setelah itu Keduanya pun membuat
usaha sampingan lagi. Kali ini kue klepon. Dibantu sang isteri, dia
menjual kue tersebut ke beberapa perusahaan di Mukakuning dekat dengan
perusahaan tempatnya bekerja.
Akhirnya dari pengalaman usaha kecil-kecilan yang bisa
menambah pendapatan lebih besar dari gajinya di perusahaan, akhirnya
Denni berbulat tekad mengundurkan diri tahun 2006.
Ketika itu sempat terpikir olehnya membuka rumah makan
Padang di kawasan Batuaji. Modal yang dia dapat dari bank sebesar Rp10
juta, digunakan semuanya memajukan rumah makan tersebut.
Mereka merekrut karyawan dengan sistem pembagian bagi hasil. Namun hanya bertahan dua bulan, rumah makan tersebut tutup.
Dalam keterpurukan, akhirnya dia mulai banyak membaca buku
mengenai kiat sukses dalam kewirausahaan dan mengelola marketing yang
baik. Buku berjudul Rich Dad, Poor Dad karya Robert T. Kiyosaki itu
membangkitkan keberaniannya.
”Akhirnya saya tahu, ternyata ada juga
usaha yang diawali tanpa modal uang sepeser pun,” ujar Ketua Keluarga
Alumni Tekinik Universitas Andalas (Katua) Korwil Batam itu.
Denni dan sang istri membuka event organizer EO dengan nama
Media Kreasi Bangsa. Proyek awal mereka yakni menjadi EO hari anak
nasional di Mega Mall Batam Center (MMBC). Memang tanpa modal, namun
MMBC mengajukan syarat harus meramaikan mallnya. Terpilihlah lomba
balita sehat dengan produk susu sebagai sponsor utama.
Acara tersebut berjalan sukses dan mencatatkan sejarah
pertama sekali mall tersebut mendapat pengunjung paling ramai. Dia
mendapat keuntungan lumayan besar sehingga bisa membuat dia dan istrinya
mudik ke Padang, Sumatera Barat.
Di kampung dia tersadar bahwa usaha yang dijalaninya ini
seperti rezeki harimau. Bila sukses, akan memperoleh uang banyak namun
jika gagal? Dia tak mau membayangkan.
Di sini wawasannya sebagai anak Teknik yang dibiasakan
berfikiran konstruktif harus banting stir. Dia pun memberanikan diri
buka usaha kue. Dia yakin membukanya karena sang istri hobi membuat kue
dan rasanya selalu dipuji siapa saja yang mencicipinya.
Usaha kue bermodal oven sederhana dimulai dengan membagikan
brosur sederhana. Itu pun bermodal Rp15 ribu. Setelah pesanan didapat,
barulah kue dibuat dan diantarkan ke pemesan.
Denni memasarkan produknya dengan sistem kemitraan.
Teman-temannya yang menjadi karyawan di kawasan industri perusahaan
Mukakuning diajak bekerjasama. Untuk setiap box Kek Pisang Villa yang
terjual Denni memberi komisi Rp 3.000 bagi temannya itu. Untuk yang bisa
memenuhi target penjualan 100 kotak, ada lagi bonus senilai Rp 100.000
di luar komisi yang disepakati.
Denni berharap insentif ini bisa menambah semangat para
mitra dalam memasarkan kue tersebut. Dengan cara ini bisnis kek pisang
ini terus berkembang. Karena kek buatan istrinya enak dan harganya
terjangkau. Keuntungan lainnya, kek tidak dibuat massal dan disesuaikan
dengan pesanan. Hari ke hari pesanan terus meningkat. Dari hanya 30
kotak, lama-lama mereka mampu menjual 400 kotak per hari.
Perlahan usaha cake (kek) pisang mulai menampakkan hasil.
Bahkan dia bisa menerima order hingga 40 loyang. Akibatnya dia dan
istri begadang semalaman menyelesaikan pesanan. Apalagi loyangnya kecil
dan hanya muat 4 kotak sekali panggang.
“Kenangan ini selalu terkenang
dan memotivasi kami untuk terus berjuang agar usaha ini sukses,”
ujarnya.
Sukses dengan pesanan itu, Denni pun mulai merambah
perusahaan lain. Dari pesanan yang didapat dia mampu membeli loyang
berkapasitas 20 kotak.
Ada akibat lain di luar perkiraannya. Rumahnya di Batuaji
jadi berantakan, dipenuhi alat pembuat kue serta bahan-bahannya hingga
berkarung-karung.
Dia pun terhenyak sejenak. Hanya sejenak, dia pun bangkit
dengan keyakinan pertolongan Allah pasti bersama hamba-Nya yang mau
berusaha dan berdoa. Isteri pun mendampingi dengan penuh cinta dan siap
mendamaikan keluh kesahnya.
Perlahan dia rasakan, pesanan bertambah dari waktu ke
waktu. Maka Denni membuat buku kas dan buku tabungan supaya mengetahui
berapa pengeluaran dan pemasukan dari pembuatan kue tersebut.
”Setelah
saya membuat buku kas saya tersebut, saya dan istri mengajukan pinjaman
Rp 40 juta ke salah satu bank dan mereka menyetujuinya. Itulah kredit
awal pengembangan Cake Pisang Villa buatan kami,” pungkas Denni.
Dari modal tersebut, Denni mulai memasang spanduk di
pinggir jalan guna memasarkan produknya dan menyebar berbagai brosur,
serta membentuk mitra sukarela memasarkan usahanya ke berbagai kantor
pemerintahan seperti PLN, Otorita Batam, Pemko Batam, dan lain-lain.
Akhirnya Denni berhasil mendapatkan omset per hari sebesar Rp2 juta.
Namun usaha ayah Faza Mutiara Dewi dan Fatanurahman Deni
sempat terganggu oleh pekerjanya. Kapasitas produksi sempat menurun.
Denni bersama istri membenahi hal-hal yang membuat pekerjanya jenuh.
“Alhamdulillah cake pisang yang biasa menjadi luar biasa, yang bisa
dinikmati dan dibanggalan warga Batam untuk wisatawan yang berkunjung ke
sana,” ungkapnya.
Bisnis itu pun setahap demi setahap merangkak naik. Denni
pun menikmati suksesnya hingga sekarang. Denni bisa tersenyum karena
saat ini banyak bank yang berlomba memberikan pinjaman kepadanya. Dia
juga sering mendapat kehormatan dan meraih penghargaan di bidang
investasi dan kewirausahaan serta sukses juga membuka cabang di Batam
Center, Nagoya, Penuin dan Batuaji.
Dia pun mampu menghadirkan pesantren Tahfidz Quran di Batam
dimana anaknya dididik secara home schooling di sana. Bersama beberapa
mitranya, Denni mampu menghadirkan plaza berkonsep islami di Batam.
Khazanah Plaza namanya. Tiap waktu shalat, seluruh pimpinan dan karyawan
di plaza menunaikan shalat berjamaah. Layanan dihentikan sementara
waktu. (zul)