Wanita Tangguh Kembali Diapresiasi Pemko
Padang - Perempuan-perempuan yang memperjuangkan harkat dan martabat keluarganya harus diapresiasi. Mulai tahun lalu, pemko telah memilih mereka dari 11 kecamatan.
"Pak walikota telah mengusulkan agar perempuan yang bekerja keras demi kesejahteraan keluarganya diberi apresiasi. Pemilihan telah dilakukan dan telah diberikan penghargaan pada puncak peringatan Hari Ibu tahun 2015," ujar Kepala BPMPKB Padang, Hj Muji Susilawati, Jumat (8/4).
Apresiasi ini dimaksudkan untuk memotivasi kaum perempuan di Padang tidak patah semangat melanjutkan kehidupan keluarga mereka setelah cerai, suami sakit payah atau meninggal dunia.
Saat memberi usulan tersebut, walikota yakin banyak perempuan yang sabar dengan cobaan yang diterimanya dan berjuang demi kehidupan lebih layak bagi anak-anaknya.
Dari perempuan tangguh terpilih pada tahun lalu didapatlah Baidar (60) yang telah memulai hari pada pukul 03.00. Dia mempersiapkan sayuran yang dipetiknya sore kemaren dan akan dibawanya ke pasar Bandar.Buat. Sayur dibungkusnya sesuai takaran harga.
Dalam perjuangannya menghidupi anak yang lima orang, Baidar tetap istiqamah menjaga ibadahnya baik wajib maupun sunat. Akhirnya dia berhasil mengantarkan anaknya jadi dosen, PNS, karyawan RSUP M Djamil, dan dokter hewan.
Ada juga Roslaini yang mampu mengantarkan anaknya kuliah di ITB dan beberapa perguruan terkemuka di Indonesia. Anaknya ada pula yang bekerja di perusahaan asing.
Tahun ini, pemko melalui BPMPKB kembali memilih wanita tangguh. Usulan dari kelurahan telah disaring di kecamatan. Hasil pemilihan kecamatan itu dipilih lagi oleh tim juri dari Kemenag, LKAAM dan praktisi.
Sebelas calon perempuan tangguh didampingi Camat, Lurah atau Kasi PM diseleksi Rabu (6/4). Diantara mereka ada dua janda yang sama-sama punya anak lima orang dan cerai mati dengan suaminya.
Diantara keduanya ada yang jualan gorengan namun tetap aktif jadi kader, di majelis taklim. Bahkan jadi ketua kelompok tani. Anaknya satu tamat IAIN dan sudah bekerja. Satu kuliah di UI.
Perempuan yang satu lagi menjadi tukang ojek, lotek malam, jualan sate, buat kue kering dan banyak pekerjaan lainnya. Meski bebannya sedang berat lantaran anaknya baru setingkat SMP, dia punya sikap.
Tak mau jualan sate di bulan Ramadhan meski jualan lebih laris manis. Bulan itu untuk ibadah pada sang pencipta.
Delapan tahun suami stroke sehingga dia harus membagi waktu antara cari uang dan melayani suaminya. Kini sang suami telah dua tahun meninggal dan dia melanjutkan perjuangan hidup bersama anak-anaknya. (zul)
