Pahami Budaya Lokal agar Sukses Berbahasa Inggris
Padang - Budaya lokal bisa menjadi motivasi dalam mempelajari Bahasa Inggris. Bagaimana pengaruh budaya lokal ini dipaparkan Ketua Masyarakat Linguistik Indonesia (MLI) Katharina Endriati Sukamto, dalam seminar bahasa dan budaya (Sebaya) yang dilaksanakan Prodi Sastra Inggris Universitas Bung Hatta (UBH) bekerjasama dengan MLI, yang dibuka Rektor UBH, Niki Lukviarman, Sabtu dan Minggu (29-30/8).
“Pemahaman kedua budaya penting dalam pembelajaran bahasa asing. Tanpa kenal budaya, bisa salah persepsi. Kita pun tak boleh meninggalkan budaya dan bahasa ibu kita walau sudah belajar bahasa asing,” ujar Katharina.
Ketua Kajian Bahasa dan Budaya, Yanti dan Yusrita Yanti makin memberi penegasan perlunya muatan budaya lokal dalam pembelajaran bahasa Inggris. Malah menurut mereka, budaya lokal bisa memperkuat motivasi belajar bahasa Inggris.
Yusrita yang Ketua MLI Cabang UBH malah mengkaji emosi marah antara orang Minangkabau dan Inggris memandang marah melalui konseptual metafora. Ternyata ada persamaan signifikan untuk mendukung mudahnya pembelajaran bahasa.
Muatan budaya lokal ini perlu jadi perhatian pemerintah agar pembelajaran bahasa Inggris lebih baik. Terutama menghadapi persaingan di era global. Ahli linguistik hendaknya diikutkan dalam pembuatan kurikulum dan metode pembelajaran. Rektor mendukung rencana ini dan akan memfasilitasi rencana ini.
Kaitan bahasa dan budaya juga dijelaskan Luli Sari Yustina dari IAIN Imam Bonjol, budaya tiap negara pasti berbeda. Untuk itu perlu dipelajari bahasa informal (slang) mereka.
Sebab jika tidak akan kesulitan bahkan bisa timbul salah paham saat penggunaannya.
Kemudian Timothy Mc Kinnon dari University of Delaware yang telah meneliti struktur bahasa Kerinci pada 2010, mempertegas budaya daerah itu perlu digali guna peningkatan pemahaman pembelajaran bahasa asing. Terutama mengenali struktur bahasa sendiri. Dikatakan pria yang juga aktif di American Institute For Indonesian Studies (AIFIS) pemahaman yang diikuti kemampuan memahami struktur bahasa asing akan memudahkan mempelajarinya.
Permasalahan lain dalam penguasaan bahasa kedua atau bahasa asing adalah ada sejumlah kata yang sulit dicarikan padanannya dalam bahasa awal pengguna. Pentingnya grammar dalam menerjemahkan bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia disampaikan Susi Deliani dari Universitas Muslim Nusantara Alwasilah Medan.
Lalu harus dipelajari pergeseran terjemahan makna tekstualnya. Ada penghilangan dan pengurangan sejumlah kata agar bisa dimengerti. Masalah penerjemahan makna tekstual dalam dalam karya populer dibahas oleh Risnawaty. Harus dipahami makna kata yang bakal diterjemahkan dan adakalanya mengungkap kembali makna itu agar bisa diterjemahkan dengan baik.
Ajarkan lebih dini
Pembelajaran Bahasa Inggris boleh diterapkan pada usia dini. Hal ini ditegaskan oleh Gusdi Sastra.
“Pembelajaran bahasa selain bahasa ibu (bilingual) boleh saja dilakukan pada masa pra pubertas, termasuk golden age (usia 0 hingga 5 tahun. Asalkan modul-modul pembelajarannya mendukung perkembangan kreativitas otak kanan bukan merusak perkembangan otak anak,” ujarnya.
Pemateri dari Fakultas Sastra Universitas Andalas yang tampil di hari kedua mengungkapkan bagaimana otak berproses di usia prapubertas dan perkembangan bahasa anak dala pemerolehan dan pembelajaran lebih dari satu bahasa.
Dijelaskannya bagaimana perkembangan kemampuan anak 50 persen hingga berusia 5 tahun, 30 persen d iusia 6-12 tahun dan 20 persen menjelang dewasa. Mengingat kerja otak tak terbatas maka boleh saja diberdayakan asal sesuai dengan perkembangannya.
Pada anak usia prapubertas, kata Gusdi, anak lebih efektif
mendapatkan bahasa lainnya secara praktek (pemerolehan) dibanding
mengikuti pembelajaran yang ada kurikulumnya dan ada target yang harus
dicapai. Jadi, sistem pembejalrannya disesuaikan hingga proses
pemerolehan bahasa yang terjadi.
