Tak Ada Simbol Yahudi di Masjid Raya Sumbar
Padang - Tudingan miring seorang Tokoh Sumbar di lini masa akun media sosialnya tentang adanya Yahudi di balik pembangunan Mesjid Raya Sumbar ditolak tegas oleh Gubernur Irwan Prayitno. Tak ada Yahudi maupun pemakaian simbolnya Bintang David di Masjid Raya Sumbar.
Hal ini ditegaskannya usai acara Tabligh Akbar di masjid itu. Kebetulan Ketua LKAAM Sumbar dan Ketua MUI Sumbar hadir guna memberi motivasi agar koperasi jadi penopang ekonomi rakyat dan kembali sebagaimana yang dicita-citakan Dr. Muhammad Hatta dulunya.
"Kini kebetulan ada Buya dan Pak Datuk. Kita dengar penjelasan beliau yang kebetulan dulu ikut saat perancangan masjid ini dulunya. Tolong wartawan klarifikasi tudingan miring yang beredar di berbagai media sosial," ujarnya sambil mempersilakan Ketua LKAAM M. Sayuti Dt. Rajo Pangulu dan Ketua MUI Syamsul Bahri Khatib menjelaskan simbol-simbol pada ornamen hias yang digunakan di dinding masjid kebanggan Sumbar itu, Jumat, (29/5).
Ketua LKAAM pun menjelaskan arti simbol pada ornamen di dinding masjid di persimpangan jalan Khatib Sulaiman itu. Setitiga menunjukkan tali tigo sapilin, tiga unsur dalam pemerintahan nagari di Minangkabau, ada pemerintah, alim ulama dan niniak mamak. Segienam yang ada bukanlah bintang david, melainkan merujuk kepada rukun iman.
Segi lima dibagian luarnya melambangkan rukun Islam. Simbol seperti orang itu merupakan perpaduan antara dudukan alquran di surau-surau dulunya. Sementara segiempat di atasnya yang mirip kepala orang itu melambangkan tau di nan ampek. Orang yang mengmalkan alquran pasti paham dengan yang empat.
Dulu orang telah banyak juga meributkan rancangan masjid ini dulunya. Di jawab dengan gamblang oleh Gamawan Fauzi yang mencanangkan pembangunan masjid yang dulunya disebut mahligai Minang.
"Banyak yang ribut tentang atap masjid. Kenapa bentuknya seperti itu, kenapa tak ada kubahnya yang melambangkan ini masjid. Dan Gamawan menjawabnya, ada filosofi mendalam dari pemilihan bentuk atap itu," ujar Sayuti.
Dijelaskannya, atap itu melambangkan upaya Nabi Muhammad SAW mendamaikan kabilah di Arab. Kabilah ribut untuk meletakkan kembali Hajarul Aswad ke tempatnya di dekat Ka' bah. Berkat kain/gamis Rasulullah, semua suku bangsa Arab merasa terhormat dan bersatu mengembalikan batu surga itu ke tempatnya semula, ya g berpindah akibat banjir.
"Ini kebesaran pribadi Rasulullah, ini kemulyaan Islam. Dan ini kita coba terapkan di Masjid Raya Sumbar. Semoga kejayaan Islam, kebenaran Islam yang rahmatan lil alamin mewarnai Indonesiadan asalnya dari Sumbar," ujarnya.
Penjelasan yang diberika Sayuti dibenarkan oleh Ketua MUI Sumbar, Syamsul Bahri Khatib. Ditambahkannya, segitiga ya g melambangkan tali tigo sapilin yang melingkupi segienam mengisyaratkan bahwa iman itu berada dalam jiwa manusia. Jika tali sapilin beriman maka baiklah negeri ini.
Syamsul Bahri yang ikut saat pemaparan desain masjid ini dulunya, berharap agar masyarakat tabayyun dan mengutamakan musyawarah. Tidak langsung mengangkatnya di media sosial hingga bjsa saja mendatangkan hal-hal yang tidak diharapkan.
Keduanya pun menegaskan tanda masjid bukan hanya kubah. Menara tinggi juga jadi simbol masjid. "Kebetulan masjid ini belum siap. Masih banyak yang harus dibangun selain menara itu yang menelan biaya cukup mahal. Saksikan saja bila masjid ini rampung. Moga jika Irwan Prayitno terpilih lagi, masjid ini bisa selesai," ujar Sayuti yang disambut gelak tawa peserta tabligh akbar yang ikut nimrung di pojokan depan masjid itu. (*)
