Bangkitkan Nilai Kebangsaan Lewat Kekuatan Ekonomi
Padang - Nilai-nilai kebangsaan terus tergerus oleh perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Anak bangsa dininabobokkan dengan web site porno, pergaulan bebas, narkoba dan lainnya.
Berbagai hal itu diakui Danrem 032/WBR, Brigjen TNI Widagdo Hendro Sukoco, merupakan bagian dari proxy war. Dalam proxy war, ada pihak ketiga yang memanfaatkan situasi dan kondisi anak bangsa untuk melemahkan negaranya.
“Kita harus terus membangkitkan nilai-nilai kebang saan individu warga negara, karena merekalah yang berhak dan wajib membela negaranya. Wawasan kebangsaan mantap, Indonesia pasti jaya,” kata Widagdo.
Kesadaran bernegara dan cinta tanah air mutlak dimiliki di masa dimana negara lain bisa saja menyerang Indonesia melalui proxy war. Peperangan ini bisa ke aspek ideologi, ekonomi, politik, hankam dan lainnya. Karena proxy war, mahasiswa Indonesia dengan mudahnya men jelekkan bahkan menghina Indonesia, produk luar merajalela, maraknya narkoba, terorisme dan lainnya.
Untuk menghadapinya, TNI menempuh cara sederhana. TNI AD ikut berada di garda depan penanaman nilai kebangsaan dan dalam gerakan ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Jokowi harus tercapai dalam tiga tahun ini. Kini tentara ikut ke sawah, memotivasi petani bahwa sektor itu bisa mendatangkan kekuatan ekonomi bagi mereka dan bangsanya.
“Kami bikin sawah di tengah kota. Kami punya demplot sendiri di Korem dan Kodim yang full organik. Pupuknya dibuat sendiri. Targetnya satu hektare meng hasilkan 10 ton,” ungkapnya.
Widagdo mengapresiasi inisiatif FKPPI dan PGRI Sumbar menyelenggarakan seminar nasional kebangsaan menyongsong 70 tahun Indonesia Merdeka.
Dia mengajak para guru dan FKPPI untuk menanamkan wawasan kebangsaan di lingkungannya. Bahkan teknik pemaparannya yang krea tif dan edukatif pun diperlihatkan saat jadi pemateri di kegiatan itu.
Prof. Sufyarma Marsidin gembira dengan kerjasama PGRI dan FKPPI ini. Para guru dimintanya meniru bagaimana cara Widagdo mengajar mereka. Ada olahraga, menggunakan kemajuan iptek hingga materinya disampaikan secara atraktif namun edukatif.
Menanggapi imbauan Dan rem, Ketua FKPPI, Indra Syafri, siap bahu membahu dengan TNI dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, bangga berbahasa Indonesia dan mampu memasang bendera minimal saat hari kemerdekaan.
Indra akan proaktif berkoordinasi dengam dinas dan kepala sekolah agar lagu Indonesia dinyanyikan seluruh peserta upacara di sekolah-sekolah.
OSIS juga dilibatkan dalam penanaman wawasan ini. Selanjutnya, diupayakan pula agar pengendara bisa berhenti saat pengibaran bendera dan Lagu Indonesia Raya dinyanyikan serta peng hormatan bagi simbol kenegaraan. (zul)
(NB Diterbitkan Singgalang Edisi Rabu 25 Maret 2015)
Berbagai hal itu diakui Danrem 032/WBR, Brigjen TNI Widagdo Hendro Sukoco, merupakan bagian dari proxy war. Dalam proxy war, ada pihak ketiga yang memanfaatkan situasi dan kondisi anak bangsa untuk melemahkan negaranya.
“Kita harus terus membangkitkan nilai-nilai kebang saan individu warga negara, karena merekalah yang berhak dan wajib membela negaranya. Wawasan kebangsaan mantap, Indonesia pasti jaya,” kata Widagdo.
Kesadaran bernegara dan cinta tanah air mutlak dimiliki di masa dimana negara lain bisa saja menyerang Indonesia melalui proxy war. Peperangan ini bisa ke aspek ideologi, ekonomi, politik, hankam dan lainnya. Karena proxy war, mahasiswa Indonesia dengan mudahnya men jelekkan bahkan menghina Indonesia, produk luar merajalela, maraknya narkoba, terorisme dan lainnya.
Untuk menghadapinya, TNI menempuh cara sederhana. TNI AD ikut berada di garda depan penanaman nilai kebangsaan dan dalam gerakan ketahanan pangan nasional yang dicanangkan Presiden Jokowi harus tercapai dalam tiga tahun ini. Kini tentara ikut ke sawah, memotivasi petani bahwa sektor itu bisa mendatangkan kekuatan ekonomi bagi mereka dan bangsanya.
“Kami bikin sawah di tengah kota. Kami punya demplot sendiri di Korem dan Kodim yang full organik. Pupuknya dibuat sendiri. Targetnya satu hektare meng hasilkan 10 ton,” ungkapnya.
Widagdo mengapresiasi inisiatif FKPPI dan PGRI Sumbar menyelenggarakan seminar nasional kebangsaan menyongsong 70 tahun Indonesia Merdeka.
Dia mengajak para guru dan FKPPI untuk menanamkan wawasan kebangsaan di lingkungannya. Bahkan teknik pemaparannya yang krea tif dan edukatif pun diperlihatkan saat jadi pemateri di kegiatan itu.
Prof. Sufyarma Marsidin gembira dengan kerjasama PGRI dan FKPPI ini. Para guru dimintanya meniru bagaimana cara Widagdo mengajar mereka. Ada olahraga, menggunakan kemajuan iptek hingga materinya disampaikan secara atraktif namun edukatif.
Menanggapi imbauan Dan rem, Ketua FKPPI, Indra Syafri, siap bahu membahu dengan TNI dalam menanamkan nilai-nilai Pancasila, UUD 1945, NKRI, bangga berbahasa Indonesia dan mampu memasang bendera minimal saat hari kemerdekaan.
Indra akan proaktif berkoordinasi dengam dinas dan kepala sekolah agar lagu Indonesia dinyanyikan seluruh peserta upacara di sekolah-sekolah.
OSIS juga dilibatkan dalam penanaman wawasan ini. Selanjutnya, diupayakan pula agar pengendara bisa berhenti saat pengibaran bendera dan Lagu Indonesia Raya dinyanyikan serta peng hormatan bagi simbol kenegaraan. (zul)
(NB Diterbitkan Singgalang Edisi Rabu 25 Maret 2015)
