Jadikan Harmoni Antar Etnis Kekuatan Ekonomi Sumbar
Padang - Atraksi barongsai dari kongsi suku Tjoa Kwa di hari pertama setelah memasuki Imlek 2556, menyita
perhatian Warga Padang. Pertama di Jalan Rasuna Said dan di Khatib Sulaiman.
Warga memenuhi halaman Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Padang. Sementara di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Sumbar yang bersebelahan dengan pool ANS, banyak yang melihat dari balik pagar pembatas.
Pada kedua instansi pemerintahan tersebut, baik pegawai, pengunjung atau mereka yang kebetulan lewat seolah berlomba mengabadikan momen langka ini.
Ada yang jepret sana jepret sini, ada juga yang memvideokannya. Tentu saja mereka ada yang selfie mengabadikan momen bersama kedua singa Tjoa Kwa tersebut.
“Kita mengapresiasi kawan-kawan warga Tionghoa untuk menunjukkan keragaman kebudayaannya. Kita beri merek ruang untuk berekspresi sesuai culture. Dan terlihat ini diterima secara terbuka,” ujar Kepala Dinas Parekraf Sumbar, Burhasman Jumat (20/2).
Dikatakan Burhasman, di sejumlah daerah seperti Padang dan Bukittinggi mereka hidup rukun dan damai bersama warga Minang dan suku/etnis lainnya.
Menurut dia, ini membuktikan orang Minangkabau atau orang Sumbar terbuka terhadap paham/aliran. Semua saling menghormati, semua saling menghargai sehingga semua budaya bisa hidup berdampingan.
Burhasman menilai dari segi pariwisata fenomena ini menjadi daya tarik yang amat kuat. Akulturasi yang harmoni antar budaya ini bisa jadi kekuatan ekonomi untuk meningkatkan pembangunan Kota Padang khususnya dan Sumbar pada umumnya.
Sebab jika tiap etnis diberi kebebasan untuk menunjukkan khasanah budayanya, hidup berdampingan dan terjalin kerjasama yang baik, tentu ini menjadi cerita bagus untuk keluarga mereka di negara asal masing-masing.
Bisa jadi, saat imlek tahun depan, sanak famili ramai-ramai berkunjung ke Sumbar. Banyak efek domino dari kunjungan itu. Pelaku usaha di sektor wisata dan kuliner pasti merasakan dampak positif akibat berkembangnya pariwisata daerah ini.
Tak hanya itu, Burhasman menegaskan pihaknya bakal mengadakan pembicaraan serius dengan tokoh etnis Tionghoa di Padang untuk menjadikannya iven pariwisata. Pihaknya juga membuka kesempatan kepada etnis India agar ada kegiatan budayanya yang bisa memperkaya kalender iven pariwisata Sumbar.
“Justru sangat bagus membangun kebersamaan lewat budaya. Lewat kesepahaman antar etnis di Padang, muncul kekuatan budaya dan ekonomi buat membangun Ranah Minang yang kental dengan koridor adat, budaya dan agama,” tegasnya.
Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Padang, Frisdawati Amran Boer, menyatakan atraksi barongsai di kantornya amat dinikmati para stafnya. Atraksi itu bahkan sempat mengundang perhatian warga yang nerlalu lalang di kawasan Jalan Rasuna Said.
Dikatakannya, agama kita saja menyuruh untuk belajar sampai ke negeri Cina. Pasti ada filosofi yang terkandung di dalamnya. “Sekarang anak negeri Tirai Bambu itu hidup berdampingan dengan kita, mengapa tidak kita manfaatkan uluran tangan kebersamaan ini. Pasti mereka mau berbagi dan bersama membangun Kota Padang,” ujar perempuan yang juga berprofesi dokter gigi ini.
Keyakinan perempuan yang akrab dipanggil Wati ini didasarkan pergaulannya selama ini dengan sejumlah warga keturunan Tionghoa. Malah Wati menemui mereka cinta Minangkabau karena lahir disini dan hidup di sini. Itu sebabnya dia menerima dengan tangan terbuka kala ada yang menawarkan barongsai melakukan semacam atraksi kesenian di kantornya.
Petrus Hendra Tjuatja yang ikut mendampingi tim barongsai Tjoa Kwa menyatakan kegembiraannya atas penerimaan instansi pemerintahan di Padang dan di lingkungan pemprov terhadap kesenian barongsai. Penerimaan yang baik ini merupakan bukti pemko dan pemprov mau melakukan pembinaan terhadap budaya etnis Tionghoa.
Dengan banyaknya tampil di depan publik berarti menambah motivasi generasi muda Tionghoa untuk belajar seni budaya nenek moyang mereka. Petrus pun meyakinkan, banyak juga generasi muda Tionghoa yang belajar kesenian Minangkabau sebagai bukti kecintaan terhadap tempat mereka dilahirkan dan mereka pun berprestasi di bidang itu.
Anggota DPRD Padang, Iswanto Kwara pun menyatakan apresiasinya terhadap sambutan baik warga kepada kesenian barongsai. Wawan begitu dia akrab dipanggil, siap memperjuangkan barongsai masuk kalender iven pariwisata.
Wawan mengungkapkan barongsai sudah banyak diminta mengisi acara di sejumlah instansi, hotel, pembukaan toko, peresmian kantor. Bahkan barongsai juga sudah mulai beratraksi di alek warga Minangkabau.
“Sungguh harmoni antar etnis yang menggembirakan. Saya yakin ini bisa jadi kekuatan budaya dan ekonomi daerah ini jika barongsai merasa dimiliki oleh etnis Minangkabau dan lainnya. Bukan hanya etnis Tionghoa,” ujarnya. (zul)
perhatian Warga Padang. Pertama di Jalan Rasuna Said dan di Khatib Sulaiman.
Warga memenuhi halaman Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Padang. Sementara di Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Parekraf) Sumbar yang bersebelahan dengan pool ANS, banyak yang melihat dari balik pagar pembatas.
Pada kedua instansi pemerintahan tersebut, baik pegawai, pengunjung atau mereka yang kebetulan lewat seolah berlomba mengabadikan momen langka ini.
Ada yang jepret sana jepret sini, ada juga yang memvideokannya. Tentu saja mereka ada yang selfie mengabadikan momen bersama kedua singa Tjoa Kwa tersebut.
“Kita mengapresiasi kawan-kawan warga Tionghoa untuk menunjukkan keragaman kebudayaannya. Kita beri merek ruang untuk berekspresi sesuai culture. Dan terlihat ini diterima secara terbuka,” ujar Kepala Dinas Parekraf Sumbar, Burhasman Jumat (20/2).
Dikatakan Burhasman, di sejumlah daerah seperti Padang dan Bukittinggi mereka hidup rukun dan damai bersama warga Minang dan suku/etnis lainnya.
Menurut dia, ini membuktikan orang Minangkabau atau orang Sumbar terbuka terhadap paham/aliran. Semua saling menghormati, semua saling menghargai sehingga semua budaya bisa hidup berdampingan.
Burhasman menilai dari segi pariwisata fenomena ini menjadi daya tarik yang amat kuat. Akulturasi yang harmoni antar budaya ini bisa jadi kekuatan ekonomi untuk meningkatkan pembangunan Kota Padang khususnya dan Sumbar pada umumnya.
Sebab jika tiap etnis diberi kebebasan untuk menunjukkan khasanah budayanya, hidup berdampingan dan terjalin kerjasama yang baik, tentu ini menjadi cerita bagus untuk keluarga mereka di negara asal masing-masing.
Bisa jadi, saat imlek tahun depan, sanak famili ramai-ramai berkunjung ke Sumbar. Banyak efek domino dari kunjungan itu. Pelaku usaha di sektor wisata dan kuliner pasti merasakan dampak positif akibat berkembangnya pariwisata daerah ini.
Tak hanya itu, Burhasman menegaskan pihaknya bakal mengadakan pembicaraan serius dengan tokoh etnis Tionghoa di Padang untuk menjadikannya iven pariwisata. Pihaknya juga membuka kesempatan kepada etnis India agar ada kegiatan budayanya yang bisa memperkaya kalender iven pariwisata Sumbar.
“Justru sangat bagus membangun kebersamaan lewat budaya. Lewat kesepahaman antar etnis di Padang, muncul kekuatan budaya dan ekonomi buat membangun Ranah Minang yang kental dengan koridor adat, budaya dan agama,” tegasnya.
Kepala Dinas Sosial dan Tenaga Kerja Padang, Frisdawati Amran Boer, menyatakan atraksi barongsai di kantornya amat dinikmati para stafnya. Atraksi itu bahkan sempat mengundang perhatian warga yang nerlalu lalang di kawasan Jalan Rasuna Said.
Dikatakannya, agama kita saja menyuruh untuk belajar sampai ke negeri Cina. Pasti ada filosofi yang terkandung di dalamnya. “Sekarang anak negeri Tirai Bambu itu hidup berdampingan dengan kita, mengapa tidak kita manfaatkan uluran tangan kebersamaan ini. Pasti mereka mau berbagi dan bersama membangun Kota Padang,” ujar perempuan yang juga berprofesi dokter gigi ini.
Keyakinan perempuan yang akrab dipanggil Wati ini didasarkan pergaulannya selama ini dengan sejumlah warga keturunan Tionghoa. Malah Wati menemui mereka cinta Minangkabau karena lahir disini dan hidup di sini. Itu sebabnya dia menerima dengan tangan terbuka kala ada yang menawarkan barongsai melakukan semacam atraksi kesenian di kantornya.
Petrus Hendra Tjuatja yang ikut mendampingi tim barongsai Tjoa Kwa menyatakan kegembiraannya atas penerimaan instansi pemerintahan di Padang dan di lingkungan pemprov terhadap kesenian barongsai. Penerimaan yang baik ini merupakan bukti pemko dan pemprov mau melakukan pembinaan terhadap budaya etnis Tionghoa.
Dengan banyaknya tampil di depan publik berarti menambah motivasi generasi muda Tionghoa untuk belajar seni budaya nenek moyang mereka. Petrus pun meyakinkan, banyak juga generasi muda Tionghoa yang belajar kesenian Minangkabau sebagai bukti kecintaan terhadap tempat mereka dilahirkan dan mereka pun berprestasi di bidang itu.
Anggota DPRD Padang, Iswanto Kwara pun menyatakan apresiasinya terhadap sambutan baik warga kepada kesenian barongsai. Wawan begitu dia akrab dipanggil, siap memperjuangkan barongsai masuk kalender iven pariwisata.
Wawan mengungkapkan barongsai sudah banyak diminta mengisi acara di sejumlah instansi, hotel, pembukaan toko, peresmian kantor. Bahkan barongsai juga sudah mulai beratraksi di alek warga Minangkabau.
“Sungguh harmoni antar etnis yang menggembirakan. Saya yakin ini bisa jadi kekuatan budaya dan ekonomi daerah ini jika barongsai merasa dimiliki oleh etnis Minangkabau dan lainnya. Bukan hanya etnis Tionghoa,” ujarnya. (zul)

