Magang ke Jabar Demi Peningkatan Mutu Pendidikan dan Kreatifitas Anak
“Kami mengirimkan tenaga pengajar kami ke Fajar Hidayah untuk belajar di sana. Sebab di sana pemahaman agama, pembentukan karakter berpadu dengan pengembangan sikap kreatif anak,” ujar Kepala TK Hauriyah Halum, Nina Ramayenda, Selasa (4/2).
Apa yang dikembangkan di Fajar Hidayah menurut Nina sesuai dengan kebutuhan anak-anak sekarang. Dan yang paling penting sejalan dengan keinginan Yayasan Muwaffaqah Hauriyah Halum. Sehingga Ketua Yayasan, Muhammad Rozi mendukung penuh program magang tersebut.
Kata Nina, pengaruh globalisasi dan kemajuan teknologi saat ini amat berpengaruh kepada anak. Baik tehadap sikap, mental, kemandirian, perilaku sosial dan lainnya. Parahnya lagi jika anak ‘memaksa’ orang tuanya membeli permainan yang cenderung membuat anak memisahkan diri dari lingkungan sosialnya.
Sementara permainan dan alat pembelajaran yang dikembangkan Fajar Hidayah berasal dari barang-barang bekas yang mudah didapat. Seperti koran bekas, kardus, botol/gelas air mineral dan lainya. Dengan barang bekas itu mereka memacu kreatifitas dan sikap produktif anak. Anak-anak pun bisa membuatnya kembali di rumah bersama orang tua dan kakaknya.
“Dari kegiatan itu anak mendapatkan pelajaran bahwa barang bekas yang ada di sekeliling anak bisa bermanfaat asal tau caranya dan mau melakukannya. Akhirnya, anak pun belajar memisahkan sampah yang masih bisa dimanfaatkan dengan yang tidak. Secara tak langsung mereka belajar mencintai lingkungannya,” tegas Nina seraya menambahkan kreatifitas itu bisa jadi penopang kehidupan mereka nantinya.
Ada keunikan yang dilihat Nina di Fajar Hidayah. Pengelola sengaja tidak mengecat dinding sekolah. Sebagai gantinya, hasil karya anak TK tersebut menghiasi nyaris keseluruhan dinding di sana. Selain itu mereka telah membuktikan pemanfaatan barang bekas bisa membawa anak-anak Aceh kembali ke sekolah, kembali ke kehidupan normal pasca tsunami Aceh tahun 2004 lalu.
Adapun Didiek Wahyudi yang mendapat kesempatan magang selama dua minggu (5-21 Maret) sungguh merasa senang sekali. Dia yang memang suka dengan kegiatan peningkatan kreatifitas langsung menyambut kesempatan berharga itu.
Dikatakannya, dari penuturan Nina setelah studi banding bersama kepala TK se-Kecamatan Padang Utara beberapa waktu lalu, Didiek yakin metode pembelajaran di sana perlu ditiru. Terlebih anak diajar kreatif dari bahan bekas. “Seperti kata iklan, dari kotor ada belajar benar-benar telah diwujudkan di sana,” ujarnya. (zul)