Nenek yang Disiplin dan Pekerja Keras itu Kini Telah Tiada
PADANG - Enam hari sudah Ham Fung Hai meninggal dunia. Namun nenek itu serasa masih berada di antara keluarga besarnya. Banyak kenangan manis yang telah ditorehkannya bersama anak dan cucu.
Tak cukup waktu untuk menceritakan kembali kisah hidupnya. Maklum, dia meninggal sudah sangat sepuh. Pada umur 102 tahun. Jarang sekali orang sekarang yang mencapai usia tersebut.
‘’Kami ingin memberikan penghormatan terakhir yang sebaik-baiknya buat almarhum mama,’’ ujar Loei Pau Hoe, anak ketiganya di Rumah Duka HBT Padang, Senin (6/12).
Pemilik Warung Kopi Abu di Pasar Raya tersebut menuturkan bahwa sang mama begitu dicintai anak-anak dan cucunya. Semua ingin yang terbaik buat mama dan oma tercinta.
Apalagi ada keluarga dari Negeri Tiongkok (China) yang ikut memberikan penghormatan terakhir buat wanita yang kerap dipanggil Popo itu. Dan direncanakan mereka akan datang, Selasa (7/12).
Diceritakan Abu, ibunya semasa hidup seorang pekerja keras. Dia datang ke Indonesia saat berumur 24 tahun. Di masa penjajahan Belanda dan Jepang dulu mereka hidup dari roti yang dibuat ayah, Loei Sin. Setelah itu mama sibuk di kebun dan sawah yang digarapnya di Sungai Lambai, Muara Labuh (kini masuk dalam Solok Selatan)
Ibunya ini ikut pula berkebun. Bahkan saking gila kerja, belum beberapa hari melahirkan, beliau sudah ikutan bekerja di ladang. Begitu pula setelah kemerdekaan, ketika mereka hijrah ke Padang. Ayah bekerja di pabrik roti, karena tidak punya modal lagi untuk memproduksi roti sendiri. Sementara Fung Hai bekerja pula di pembuatan kerupuk kulit.
Karena hemat, Fung Hai bisa mengumpulkan sedikit uang. Akhirnya dia mulai membuat kerupuk sendiri setelah dapat ilmu dari teman baiknya.
Jatuh bangun dalam berusaha sudah biasa bagi Fung Hai. Dia tetap berupaya bagaimana memperjuangkan kehidupan anak-anaknya. Terutama sejak 1959, dimana dia membesarkan anak-anak sendirian. Suaminya Loei Sin meninggalkan mereka untuk selama-lamanya. Padahal saat itu, si bungsu, Christine Hakim (Loei Tjeng Kim) baru berumur tiga tahun.
Anak-anak diajar mandiri sedari kecil. Mereka harus terlibat dalam usaha ibu atau kakak-kakaknya. Membantu apa yang mereka bisa. Bahkan mereka diajar untuk punya usaha sendiri agar bisa punya uang lebih.
Usaha pembuatan kripik pun ide awalnya datang dari Fung Hai. Tahun 1980, anak-anak disuruh belanja. Membeli ubi. Lalu dibuatlah kripik balado. Kripik ini dititip ke kedai-kedai. Penjualan waktu itu, sebungkusnya Rp50. Dan pembayaran per bungkus Rp40.
Banyak kenangan saat memproduksi kripik ini. Mereka serentak menangis kala kripik yang baru dibuat, bentuknya kusam atau terlalu berkilat. Jika sudah begini, mereka faham, kerugianlah yang diderita. Di sini sang mama menunjukkan sikap bijaknya. Kripik itu jadi konsumsi sehari-hari sebagai ganti pelajaran agar di lain hari lebih hati-hati.
Loei Tjeng Siu yang pertama punya usaha kripik itu. Kendati laku, Tjeng Siu mengaku masih takut buka toko sendiri. Bahkan ada temannya yang wartawan mau mempromosikan. ‘’Saya bilang padanya, kalau kamu mau liput juga, silakan. Saya malah lari menjauh setelah itu,’’ ujarnya sambil tertawa mengenang semua itu.
Barulah di tangan Christine Hakim usaha kripik balado keluarga mereka maju pesat. Kata Tjeng Siu, Christine orangnya berani dan pintar berpromosi. Barulah tahun 1990-an mereka berani buka toko. Dan dengan label Christine Hakim, kripik balado mereka kian mendapat tempat di hati masyarakat. Peran sentral sang ibu berhasil menyatukan mereka agar saling mendukung satu sama lainnya.
Loei Tjeng Lan menambahkan bahwa ‘kekejaman’ ibu mereka pada anak-anaknya mereka rasakan dampaknya sekarang. Siapa yang bersalah, tidak disiplin dan tidak mau patuh terhadap aturan yang telah disepakati bersama, bakal dimarahi bahkan dipukul, tergantung tingkat kesalahannya.
‘’Jika ibu tidak mendidik kami dengan keras, mungkin tak seperti ini kehidupan kami, anak-anaknya,’’ kata Tjeng Lan.
Diakui Lan, anak-anak harus membantu pekerjaan orangtuanya, baru setelah itu boleh bermain. Main pun tidak boleh lama. Namun kini mereka menyadari, kedisiplinan dan kerja keras yang diajarkan Fung Hai membuat anak-anaknya sukses.
Baik Abu, Siu, Lan dan Christine mengakui, mama yang seakan tiada henti bergerak (bekerja) lantaran tak ingin menyusahkan anak-anaknya membuat dia berumur panjang. Sang mama juga tidak pikun sampai akhir hayatnya.
Bahkah anak lelaki bungsunya, Loei Tjin Yong (Herman Luis) mengaku bangga dengan ibunya. Betapa ibu mampu mengubah karakternya. Ini menjadi motivasi bagi keluarga besar. Betapa sang ibu yang tidak mengenyam pendidikan bisa membuat anak-anaknya menikmati kehidupan yang lebih baik. ‘’Mama bakal selalu ada di hati kami. Selamat jalan mama,’’ ujar Herman. (zul)