PSBN Berupaya Mandirikan Disabilitas Netra
Padang - Panti Sosial Bina Netra Tuah Sakato di Kalumbuk Padang menghentikan pelayanan (terminasi) bagi 13 penderita disabilitas netra yang dididik di panti (kelayan) mereka. Ke-13 kelayan itu telah menyelesaikan pendidikan keterampilan di panti tersebut dan diwisuda, Selasa (24/12).
“Alhamdulillah, kita gembira bisa mengembalikan 13 anak kepada keluarganya. Mereka telah kita didik dan latih hingga mempunyai keterampilan yang membuatnya bisa hidup mandiri,” ujar Kepala Dinas Sosial Sumbar, Abdul Gafar usai prosesi terminasi kelayan PSBN di Kalumbuk Padang, Selasa (24/12).
Diungkapkan oleh Gafar, PSBN dengan segala kemampuannya telah berupaya melatih mereka untuk tidak menyesali nasib. Bahkan memotivasi mereka untuk hidup mandiri. Kelayan juga diberi keterampilan yang bisa menopang hidup mereka.
“Lihatlah betapa bahagianya mereka karena bisa merasakan ‘wisuda’ dari pendidikannya. Sesuatu yang tidak didapatkannya jika tidak dididik dan dilatih di sini,” ungkap Gafar.
Lelaki yang hobi badminton ini berharap keluarga bisa memberikan dukungan terhadap mereka yang telah diterminasi itu. Sebab, bekal kemandirian yang telah dibe rikan bakal percuma jika tidak mendapat dukungan dari keluarga. Memang mereka telah punya keterampilan hidup sehari-hari, pandai massage dan shiatsu.
Mereka juga diberi peralatan (toolkit) seperti tempat tidur massage dan shiatsu, peralatan pendukung lainnya hingga minyak massage. Namun mereka tak dapat menggunakannya jika tidak ada tempat praktik atau klinik. Orang tua bisa meng arahkan kelayan itu untuk bermitra dengan rekannya atau membuka klinik sendiri.
Peran pemerintah kota atau kabupaten dimana anak berdomisili juga diminta proaktif. Mereka bisa meng gagas program beserta ang garan untuk membantu pem bukaan klinik bagi penderita netra ini.
Gafar juga mengajak selu ruh pihak terkait untuk turut memikirkan para disabilitas netra tersebut. Untuk Sumbar saja, katanya, ada 2.597 penderita netra. Sementara kesanggupan PSBN hanya 50 orang. Tiap tahun pun hanya terjadi pergantian belasan orang, karena belasan orang itu yang bisa menamatkan pendidikan keterampilannya di PSBN.
Namun Gafar mengakui, perbandingan instruktur dengan kelayan belum se perti harapan undang-un dang.
Daya tampung panti masih terbatas. Gafar bersa ma jajarannya bertekad akan terus berupaya memperjuang kan anggaran bagi panti-panti di lingkungan tugasnya agar panti bisa terus memperjuangkan kemandirian bagi penyandang disabilitas.
Sekaitan pihak ketiga, ditambahkan oleh Kepala UPTD PSBN Tuah Sakato Padang, Heni Yunida sudah banyak perusahaan atau lembaga yang peduli dengan PSBN.
Mereka memberikan tem pat magang seperti RSI Aisyi yah Padang, RS Siti Rahmah dan Klinik Alumni.
Juga ada Lions Club yang membantu tongkat putih dan alquran braille saat ulang tahun or ganisasi interna sional itu.
Selain itu, ada universitas seperti Ekasakti yang meng undang anak untuk menam pilkan tari pasambahan da lam acara perguruan tinggi mereka. Perorangan ada juga yang mengundang anak ke acara mereka. Sejumlah mas jid puna memberikan kesem patan berceramah bagi kelayan di bulan Ramadhan.
Klinik bersama
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja Padang Pariaman, Gusnawati yang ikut dalam acara terminasi itu mengatakan, pihaknya telah menggagas pembuatan klinik bersama bagi tamatan PSBN yang berasal dari daerahnya.
Dalam waktu dekat, empat alumni PSBN akan diajak berdiskusi seputar program klinik bersama tersebut. Gusnawati berharap program ini menjadi percon tohan bagi daerah lainnya di Sumbar. (zul)
“Alhamdulillah, kita gembira bisa mengembalikan 13 anak kepada keluarganya. Mereka telah kita didik dan latih hingga mempunyai keterampilan yang membuatnya bisa hidup mandiri,” ujar Kepala Dinas Sosial Sumbar, Abdul Gafar usai prosesi terminasi kelayan PSBN di Kalumbuk Padang, Selasa (24/12).
Diungkapkan oleh Gafar, PSBN dengan segala kemampuannya telah berupaya melatih mereka untuk tidak menyesali nasib. Bahkan memotivasi mereka untuk hidup mandiri. Kelayan juga diberi keterampilan yang bisa menopang hidup mereka.
“Lihatlah betapa bahagianya mereka karena bisa merasakan ‘wisuda’ dari pendidikannya. Sesuatu yang tidak didapatkannya jika tidak dididik dan dilatih di sini,” ungkap Gafar.
Lelaki yang hobi badminton ini berharap keluarga bisa memberikan dukungan terhadap mereka yang telah diterminasi itu. Sebab, bekal kemandirian yang telah dibe rikan bakal percuma jika tidak mendapat dukungan dari keluarga. Memang mereka telah punya keterampilan hidup sehari-hari, pandai massage dan shiatsu.
Mereka juga diberi peralatan (toolkit) seperti tempat tidur massage dan shiatsu, peralatan pendukung lainnya hingga minyak massage. Namun mereka tak dapat menggunakannya jika tidak ada tempat praktik atau klinik. Orang tua bisa meng arahkan kelayan itu untuk bermitra dengan rekannya atau membuka klinik sendiri.
Peran pemerintah kota atau kabupaten dimana anak berdomisili juga diminta proaktif. Mereka bisa meng gagas program beserta ang garan untuk membantu pem bukaan klinik bagi penderita netra ini.
Gafar juga mengajak selu ruh pihak terkait untuk turut memikirkan para disabilitas netra tersebut. Untuk Sumbar saja, katanya, ada 2.597 penderita netra. Sementara kesanggupan PSBN hanya 50 orang. Tiap tahun pun hanya terjadi pergantian belasan orang, karena belasan orang itu yang bisa menamatkan pendidikan keterampilannya di PSBN.
Namun Gafar mengakui, perbandingan instruktur dengan kelayan belum se perti harapan undang-un dang.
Daya tampung panti masih terbatas. Gafar bersa ma jajarannya bertekad akan terus berupaya memperjuang kan anggaran bagi panti-panti di lingkungan tugasnya agar panti bisa terus memperjuangkan kemandirian bagi penyandang disabilitas.
Sekaitan pihak ketiga, ditambahkan oleh Kepala UPTD PSBN Tuah Sakato Padang, Heni Yunida sudah banyak perusahaan atau lembaga yang peduli dengan PSBN.
Mereka memberikan tem pat magang seperti RSI Aisyi yah Padang, RS Siti Rahmah dan Klinik Alumni.
Juga ada Lions Club yang membantu tongkat putih dan alquran braille saat ulang tahun or ganisasi interna sional itu.
Selain itu, ada universitas seperti Ekasakti yang meng undang anak untuk menam pilkan tari pasambahan da lam acara perguruan tinggi mereka. Perorangan ada juga yang mengundang anak ke acara mereka. Sejumlah mas jid puna memberikan kesem patan berceramah bagi kelayan di bulan Ramadhan.
Klinik bersama
Kepala Dinas Sosial Tenaga Kerja Padang Pariaman, Gusnawati yang ikut dalam acara terminasi itu mengatakan, pihaknya telah menggagas pembuatan klinik bersama bagi tamatan PSBN yang berasal dari daerahnya.
Dalam waktu dekat, empat alumni PSBN akan diajak berdiskusi seputar program klinik bersama tersebut. Gusnawati berharap program ini menjadi percon tohan bagi daerah lainnya di Sumbar. (zul)