Masyarakat Pasia Laweh Kembangkan Jamur Tiram
Padang - Jamur Tiram dilirik masyarakat Pasia Laweh, Kelurahan Sungai Tarab, Tanah Datar. Baru dibudidayakan saja sudah banyak pedagang yang menanyakan kapan panennya. Bahkan pelaku UMKM di Luhak Nan Tuo dan Luhak Agam pun berminat menampungnya.
“Masyarakat di sini semangat sekali belajar budidaya jamur tiram. Mereka ingin memperbaiki ekonomi keluarga. Apalagi sebagian mereka telah dibawa studi banding ke pengusaha jamur Tiram di Tilatang Kamang Agam,” ujar Ketua TPK PNPM MPd Pasia Laweh, Afrizal, Senin (9/12).
Diungkapkan Afrizal, ketertarikan masyarakat bermula dari cerita seorang pensiunan PNS yang telah dua tahun melakukan budidaya jamur tiram ini. Dia menceritakan sedikit kisah suksesnya bersama jamur tiram tersebut. Berbekal cerita dari mulut ke mulut, maka hal ini jadi usulan mereka dalam Musrenbang tahun 2012 lalu.
Kegiatan ini kemudian mendapat bantuan pendanaan dari PNPM MPd. Total biaya yang dibutuhkan Rp128 juta. Biaya itu mencakup pelatihan 60 warga, pembelian bibit, penyediaan tempat budidaya, hingga penanganan pascapanen nantinya.
Kini setelah program itu dijalankan, dua minggu ini dua kelompok diantaranya telah mendapat mendapat pelatihan. Mereka dilatih oleh dua orang pelaku usaha, Zen Muncak Batuah dan Yunailus.
Dikatakan Afrizal, Yunailus adalah pengusaha jamur crispy dari Agam. Dia memproduksi jamur crispy itu di bawah bendera usaha Restu Ibu.
Menurut Afrizal, setelah melihat tempat usaha Buk Yunailus ini, mereka yang sudah dilatih di bekas SD Inpres Pasia Laweh itu, kian bersemangat untuk membudidayakannya. Mereka telah disewakan satu ruangan milik warga setempat untuk keperluan itu. Ruang budidaya harus streril dan tidak ada cahaya masuk ke dalamnya. “Berbicara saja di dalam ruang budidaya tidak boleh. Harus pakai penutup mulut,” tegasnya.
Yunailus kepada Singgalang menyatakan kegembiraannya melihat warga yang antusias mengembangkan jamur tiram. Apalagi sekilo jamur segar dihargai Rp16.000. “Dan jika sudah jadi Crispy, harga jual bisa Rp100.000,” ujar Yunailus.
Demi melihat semangat warga yang berumur 20 hingga 58 tahun itu, Yunailus pun mengajarkan bagaimana cara panen dan penggorengan jamur itu hingga menjadi crispy.
Dia buka rahasia usahanya karena tidak takut warga di sana bakal jadi pesaingnya. Yunailus malah gembira jika ada diantara 60 orang itu yang menjadi mitra usaha. Minimal dia bisa mendapatkan jamur segar tanpa dibayangi ketakutan menipisnya persediaan jamur yang bakal dia olah. (zul)
“Masyarakat di sini semangat sekali belajar budidaya jamur tiram. Mereka ingin memperbaiki ekonomi keluarga. Apalagi sebagian mereka telah dibawa studi banding ke pengusaha jamur Tiram di Tilatang Kamang Agam,” ujar Ketua TPK PNPM MPd Pasia Laweh, Afrizal, Senin (9/12).
Diungkapkan Afrizal, ketertarikan masyarakat bermula dari cerita seorang pensiunan PNS yang telah dua tahun melakukan budidaya jamur tiram ini. Dia menceritakan sedikit kisah suksesnya bersama jamur tiram tersebut. Berbekal cerita dari mulut ke mulut, maka hal ini jadi usulan mereka dalam Musrenbang tahun 2012 lalu.
Kegiatan ini kemudian mendapat bantuan pendanaan dari PNPM MPd. Total biaya yang dibutuhkan Rp128 juta. Biaya itu mencakup pelatihan 60 warga, pembelian bibit, penyediaan tempat budidaya, hingga penanganan pascapanen nantinya.
Kini setelah program itu dijalankan, dua minggu ini dua kelompok diantaranya telah mendapat mendapat pelatihan. Mereka dilatih oleh dua orang pelaku usaha, Zen Muncak Batuah dan Yunailus.
Dikatakan Afrizal, Yunailus adalah pengusaha jamur crispy dari Agam. Dia memproduksi jamur crispy itu di bawah bendera usaha Restu Ibu.
Menurut Afrizal, setelah melihat tempat usaha Buk Yunailus ini, mereka yang sudah dilatih di bekas SD Inpres Pasia Laweh itu, kian bersemangat untuk membudidayakannya. Mereka telah disewakan satu ruangan milik warga setempat untuk keperluan itu. Ruang budidaya harus streril dan tidak ada cahaya masuk ke dalamnya. “Berbicara saja di dalam ruang budidaya tidak boleh. Harus pakai penutup mulut,” tegasnya.
Yunailus kepada Singgalang menyatakan kegembiraannya melihat warga yang antusias mengembangkan jamur tiram. Apalagi sekilo jamur segar dihargai Rp16.000. “Dan jika sudah jadi Crispy, harga jual bisa Rp100.000,” ujar Yunailus.
Demi melihat semangat warga yang berumur 20 hingga 58 tahun itu, Yunailus pun mengajarkan bagaimana cara panen dan penggorengan jamur itu hingga menjadi crispy.
Dia buka rahasia usahanya karena tidak takut warga di sana bakal jadi pesaingnya. Yunailus malah gembira jika ada diantara 60 orang itu yang menjadi mitra usaha. Minimal dia bisa mendapatkan jamur segar tanpa dibayangi ketakutan menipisnya persediaan jamur yang bakal dia olah. (zul)