Suku Guci Berok Gn. Pangilun Ikhlaskan Rumah Dibongkar
Kerelaan Suku Guci di Berok Gunung Pangilun melepas tanah ulayatnya bagi pembangunan jalan penghubung ke Wisma Indah II Lapai patut diacungi jempol. Tanpa kesulitan berarti, keluarga besar itu memutuskan rumah salah satu keluarga mereka dibongkar untuk jalan evakuasi tsunami.
“Kami mau merelakan tanah ulayat kami itu lantaran kami tahu penggunaannya untuk apa. Demi kebaikan kita bersama,” ujar Agusril, salah seorang ninik mamak kepada Singgalang, Minggu (13/7).
Diungkapkan Agusril, seluruh keluarga besar sukunya setuju memberikan lahan mereka untuk jalan umum. Mereka pun bakal merasakan dampak positif dari keberadaan jalan evakuasi tsunami itu nantinya.
Agusril mengakui, tanah tersebut menurut rencana tata kota masuk ke dalam daerah yang diperuntukkan bagi jalan. Sebagai warga yang baik, mereka harus mau merelakannya. Dia pun menyatakan terkesan dengan cara para tokoh masyarakat seperti RW dan perangkatnya serta warga di daerah itu. Apalagi warga menawarkan santunan Rp20 juta, bukan ganti rugi.
Hal senada juga diungkapkan Arman, wakil dari pemilik rumah. Ia mengakui pendekatan yang dilakukan tokoh masyarakat dan perangkat pemerintah di lingkungan tersebut sangat bijaksana. Musyawarah untuk mufakat yang warga lakukan tampaknya mengena di hati niniak mamak, dan keluarga besar Suku Guci.
Agusril dan Arman sepertinya menyadari jalan tembus tersebut memperlancar arus lalulintas di sana. Sebab, jika melewati Jalan Cindur Mato yang tembus ke depan SD 06 Lapai, biasanya macet. Apalagi jika bencana seperti perkiraan para ahli benar-benar terjadi.
Ketua RW 10, M. Gandhi adalah orang yang sangat gembira dengan keikhlasan keluarga itu. “Saya sampai sujud syukur begitu mendengar mereka mengikhlaskan tanah. Padahal satu diantara empat petak rumah itu digunakan untuk kedai,” ucap Gandhi di sela-sela pelaksanaan gotong royong pembersihan puing-puing dan pembuatan saluran air yang diikuti Kabid PUK Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Junaidi.
Menurut Gandhi, cerita keikhlasan suku itu cepat beredar. Rumah Makan Lamun Ombak telah menyediakan nasi bungkus dua kali gotong royong. Bahkan RM VII Koto Talago yang juga warga setempat pun tak mau ketinggalan. PLN pun memindahkan tiang mereka yang kebetulan akan berada di pertengahan jalan, tanpa membebankan biaya pada warga. (zul)
“Kami mau merelakan tanah ulayat kami itu lantaran kami tahu penggunaannya untuk apa. Demi kebaikan kita bersama,” ujar Agusril, salah seorang ninik mamak kepada Singgalang, Minggu (13/7).
Diungkapkan Agusril, seluruh keluarga besar sukunya setuju memberikan lahan mereka untuk jalan umum. Mereka pun bakal merasakan dampak positif dari keberadaan jalan evakuasi tsunami itu nantinya.
Agusril mengakui, tanah tersebut menurut rencana tata kota masuk ke dalam daerah yang diperuntukkan bagi jalan. Sebagai warga yang baik, mereka harus mau merelakannya. Dia pun menyatakan terkesan dengan cara para tokoh masyarakat seperti RW dan perangkatnya serta warga di daerah itu. Apalagi warga menawarkan santunan Rp20 juta, bukan ganti rugi.
Hal senada juga diungkapkan Arman, wakil dari pemilik rumah. Ia mengakui pendekatan yang dilakukan tokoh masyarakat dan perangkat pemerintah di lingkungan tersebut sangat bijaksana. Musyawarah untuk mufakat yang warga lakukan tampaknya mengena di hati niniak mamak, dan keluarga besar Suku Guci.
Agusril dan Arman sepertinya menyadari jalan tembus tersebut memperlancar arus lalulintas di sana. Sebab, jika melewati Jalan Cindur Mato yang tembus ke depan SD 06 Lapai, biasanya macet. Apalagi jika bencana seperti perkiraan para ahli benar-benar terjadi.
Ketua RW 10, M. Gandhi adalah orang yang sangat gembira dengan keikhlasan keluarga itu. “Saya sampai sujud syukur begitu mendengar mereka mengikhlaskan tanah. Padahal satu diantara empat petak rumah itu digunakan untuk kedai,” ucap Gandhi di sela-sela pelaksanaan gotong royong pembersihan puing-puing dan pembuatan saluran air yang diikuti Kabid PUK Dinas Koperasi dan UMKM Sumbar, Junaidi.
Menurut Gandhi, cerita keikhlasan suku itu cepat beredar. Rumah Makan Lamun Ombak telah menyediakan nasi bungkus dua kali gotong royong. Bahkan RM VII Koto Talago yang juga warga setempat pun tak mau ketinggalan. PLN pun memindahkan tiang mereka yang kebetulan akan berada di pertengahan jalan, tanpa membebankan biaya pada warga. (zul)